PROLOG

The day has come. We're ready yet nervous about our first flight. With Lukman, we'll travel in the air for an hour to Ngurah Rai International Airport.

Kita memulai perjalanan dari rumah masing - masing ke Bandara Juanda. And damn, Lukman so late. Even so, feel so relieved cause we can make it on time. Di atas ketinggian, kami benar - benar terlihat seperti idiot yang baru pertama kali naik pesawat! Well that's true. Everything is a new thing, this is the real of new world for us. Isn't these sounds funny. We're saying this when our friends is already abroad. yeah well.

We learn everything as soon as we tried. Amazing. Dengan sedikit hambatan, kami tiba di bandara Ngurah Rai. Bingung sumpah, pintu keluarnya dimana? Kami hanya melihat perusahaan taksi yang menawarkan jasanya. Tapi kami kekeuh untuk tetap jadi backpacker dan menolak SEMUA tawaran supir taksi yang ada disana. Kami berjalan keluar dari area bandara. We're hopeless. Capek, baru 20 menit jalan kaki, rasanya kayak abis lari beberapa km. Mungkin efek barang bawaan ku yang banyak. Kami bahkan bertanya pada warga sekitar mengenai kendaraan umum yang bisa kami gunakan, dan nihil. Lukman meminta untuk istirahat sejenak di sebuah SPBU karena perut nya sakit, dan dia harus menyelesaikan urusan tersebut di dalam kamar mandi.

Selesai dengan kamar mandi, Lukman membuka backpacknya dan mulai membuat sandwich selai. Absurb. Dia bawa bekal roti, mentega dan selai. haha. What the hell is it? Setelah mengisi perut sedikit, kami melanjutkan perjalanan dan bertanya lagi pada pengguna jalan angkutan yang harus kami gunakan untuk menuju ke terminal Ubung. Kami berjalan mengikuti petunjuk dari orang tersebut. By the way it needs more than 30 minutes to get out of Airport area. Almost an hour, maybe.

Di dekat sebuah patung Kuda, kami naik angkutan umum seperti bemo ke terminal Ubung. Tarifnya dibawah sepuluh ribu rupiah. Well, saya lupa nominal pastinya. Hati - hati kena tipu yah, karena kadang ada saja supir bemo yang nakal. Melihat penumpangnya adalah wisatawan yang notabene tidak tahu apa - apa, menjadi kesempatan bagi mereka untuk meraup uang lebih banyak dengan cara yang tidak baik. Meskipun tidak semua orang seperti itu, just in case, be careful. Perjalanan ke terminal Ubung tidak begitu lama, namun juga tidak sebentar.  about 40 minutes. Ternyata, macet juga yah disini.

Pas tiba di terminal ubung, dua calo tiket langsung menyerbu kami di atas angkutan. Kami kaget. Kok seperti ini yah, untuk Bali yang terkenal sudah modern, ternyata masih saja ada preman dan praktek percaloan yang beroperasi dengan bebas. Yang model begini ini nih yang bikin wisatawan enggan untuk berkunjung lagi. Iya kan?! This is too much. sudah maksa, harganya juga ga masuk akal. Menyakitkan, kenyataan bahwa kami sedang di perdaya oleh saudara setanah air. Harus ada perubahan disini, kalau tidak maka turis akan semakin menghilang.

Kami lanjut naik angkutan menuju ke pelabuhan Padang Bai. Harus kecewa lagi. Karena kendaraannya masih ngetem lama di terminal, alasannya adalah penumpangnya belum memenuhi target. Istilahnya adalah jumlah penumpang harus lebih dari Break Even Point. Cielah! Jadi begitulah. Lukman yang kelaparan bergegas menuju salah satu warung yang ada disini. Cukup murah, dan cocok dengan lidah Jawa Timur Lukman. Ternyata eh ternyata sang pemilik yang juga merupakan sang chef adalah orang asli Banyuwangi. Baru tahu kalau disini juga dijadikan sebagai destinasi orang merantau, mengais rizky.

Akhirnya mesin mobil dinyalakan setelah beberapa penumpang naik melebihi titik tadi. Disepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan laut dan juga perbukitan. Meskipun view yang ditawarkan stunning, tapi aku dan Lukman yang kecapekan dan kurang tidur akhirnya memajmkan mata barang sejenak. Dan kami tiba di pelabuhan Padang Bai. Kebanyakan yang menggunakan kapal laut ini adalah truk mengangkut barang, dan juga warga lokal. Tips bila memang terpaksa harus menggunakan kapal laut sebagai alat transportasi untuk ke Lombok:
  1. Sewalah motor atau mobil ini karena kendaraan umum disini sangat bergantung pada jumlah penumpang. Kasusnya sama seperti di terminal Ubung
  2. Kendaraan yang disewa bisa dibawa menyebrang, dan dapat pula diparkirkan di tempat parkir yang disediakan disini. Katanya cukup aman sih
  3. Kalau ada uang lebih, lebih baik langsung menggunakan pesawat dari Ngurah Rai atau dari bandara terdekat yang berada di kota asal anda.
  4. Disini tidak ada taksi atau semacamnya. Yang ada hanya kendaraan umum seperti yang tersedia di terminal.
Pemandangan kapal, pulau, dan air laut sehijau emerald menjadi sajian utama yang dapat dinikmati ketika kita menggunakan kapal sebagai sarana transportasi menuju Lombok. Dengan kesulitan yang ada, bagi beberapa orang perjalanan ini worth it loh. Karena memang view yang ada di pelabuhan ini bukan main. Bukan main membuat orang stunning! Aku menghabiskan sedikit waktu untuk mengambil gambar untuk kalian lihat.









Karena jarak pulau Bali dan Lombok cukup jauh, dan pelabuhan yang digunakan lebih sedikit dibandingkan jumlah kapal yang bersandar tiap hari nya, jadi harap maklum. Harap maklum kalau waktu yang dibutuhkan untuk sampai di pelabuhan Lembar Lombak is like foreverrrr! Kira - kira setelah lebih dari enam jam terombang - ambing di tengah lautan, kami akhir nya dapat merapat dengan selamat. Kembali duduk manis di dalam bus, dan mencoba untuk sejenak memejamkan mata. Tak kuasa, tak tega merasakan perut kosong. Well, sebenarnya kami sempak makan sedikit diatas kapal. Tapi itu jauh dari cukup. Apalagi dengan efek bosan dan gerakan kapal yang tidak bisa dikatakan tenang.

Kami tiba di Mataram setelah menempuh jarah sekitar 40menitan dari pelabuhan Lembar. Dan tiba di rumah sementara (ketika di terminal Ubung kami bertemu seseorang yang menawarkan untuk memberi kami tempat menginap selama dua hari) hampir pukul sembilan malam. capeeeeeeeek. Tapi demi nama kesopanan, aku dan Lukman menahan laju kelopak mata kami untuk bercengkrama dengan tuan rumah.



Comments

Popular Posts