Lost in Bali and Lombok for a week part 4

Lanjutan dari post yang sebelumnya : Part 3



Jadi kami berangkat setelah motor nya datang. How? Hanya kami dan Tuhan yang tahu caranya. Haha. Kami benar – benar mengandalkan petunjuk arah yang terpasang + sering bertanya arah pada warga sekitar. Untungnya, warga disini cukup ramah dan baik untuk memberikan arah yang benar. See, this is the real travelling. When you interacting with the local. Dan syukurnya lagi, mereka sudah bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Jadi kami tidak mengalami kesulitan saat bertanya mengenai arah dan lainnya.




Fortunately, setelah nyasar beberapa kali, dan bertanya like hundred times kami tiba di pantai Putri Mandalika yang berada disebelah pantai Kuta. Cantik. Pantai ini memiliki dua jenis pasir pantai. Pasir yang berada dekat dengan air laut bentuknya bulir – bulir besar seperti merica. Sedangkan pasir yang berada lebih dekat dengan daratan bentuknya lebih halus dan lembut. Kami takjub dengan pasir merica dan juga takjub karena dua pasir yang berbeda berada bersebelahan tanpa mengganggu satu sama lainnya.




Kami bermain – main dan narsis di sekitar pantai tersebut. Kebetulan ada kapal yang sedang merapat. Kapal tersebut membawa penumpang, dua orang bule. Sepertinya mereka baru saja melakukan snorkelling dan atau diving di spot terbaik yang ada di sekitar pulau Lombok. Sumpah jeles. Aku dan Lukman yang merupakan WNI malah ga bisa menikmati alam bawah laut Lombok, sedangkan mereka bisa. Iya, karena kami backpacker bokek! Haha.





Puas menikmati keindahan pantai dan laut disini, kami berencana pulang dan kalau sempat mampir di desa Sade untuk membeli tenun khas Lombok. Saat berjalan ke parkiran, Lukman melihat seorang ibu yang menggendong setumpuk kain tenun untuk di dagangkan. Dan si Lukman bertanya padaku, bagaimana kalau membeli tenun disini saja. Aku menggelengkan kepala sebagai respon dari pertanyaannya. Dan berkata, “enggak man, beli di desa Sadenya aja”


Belum juga kalimat ku selesai, Lukman sudah melambaikan tangan ke arah ibu penjual tenun. Ibu tersebut tergopoh menghampiri kami, diikuti dengan pedagang lain yang juga menghambur ke arah kami. Disinilah situasinya berubah menjadi totally chaotic. Beberapa pedagang mengerubungi Lukman membujuk – merayu – memelas (apapun dilakukan) agar mau membeli barang dagangan mereka. Tak hanya Lukman. Aku pun harus bertahan mendengar segala macam ocehan mereka yang intinya agar mau membeli dagangannya. Salah seorang warga setempat nyeletuk, “lumayan mbak, disini dikerubungi orang banyak. Kayak artis”. Suer, dongkol abis denger celetukan orang itu. Akhirnya, aku dan Lukman berakhir dengan berbelanja beberapa agar pedagang – pedagang tadi menyingkir. Tuhan, sumpah perang batin gilak. Berasa di palak


Jadi tips disini adalah, jangan berani manggil atau nawar kalau ga ada niatan untuk beli. Atau kalau mau lebih aman, mending belanja kain tenun di toko yang ada di sekitar desa Sade atau bisa juga beli dari penduduk desa Sade langsung. #myeverydaydiscovery banget ini. Haha.


Kami pulang dengan perut sakit. Bukan pengen ke kamar mandi. Tapi karena ketawa ngakak karena kebodohan kami di pantai tadi. Kami manusia dewasa yang sangat berpendidikan tidak mampu mengelak dari jeratan SCAM pedagang di pantai tadi. Dan malah menghabiskan uang yang seharusnya kami gunakan untuk berkeliling menjadi setumpuk kain tenun. Its okay if just one. Tapi ini kami paling tidak membeli 4 lembar kain. Bayangkan berapa banyak rupiah yang kami habiskan disana. Bayangkan. Kami tertawa diatas penderitaan kami sendiri, terkakak karena kesalahan. Tauk deh. Seharusnya kami menangis tragis, tapi ini malah ngakak sepanjang jalan pulang.

Comments

Popular Posts