Lost in Bali and Lombok for a week part I




Thanks to a certain book that became my guide book


What kind of book? Judulnya “Where to go Lombok and Sumbawa” dari Intisari. Somehow it feels like a good guide to show me the great of Lombok Island. Buku ini tidak hanya membahas tempat wisata alam yang menjadi rekomendasi. Dan juga ada tips  berguna yang terselip di sela – sela artikel. Island. I came to some places which are so damn beautiful. Meskipun kami literally hanya mengunjungi beberapa spot yang bisa kami capai maksimal 3 jam perjalanan. Bukan. Bukan saya tak mampu jadi joki motor. I have the ability to withstand the tiredness. I do, seriously. But whats the real bothersome is the weather. It’s change unexpectedly. It’s almost every evening there’ll be rain. Kesalahan fatal yang kami lakukan dengan sengaja. Aissh. Kampret lah.

Kami pergi ke sana pas di awal bulan desember. Dimana angin bertiup sangat kencang dan curah hujan sangat tinggi. Angin yang kencang juga memiliki dampak yang sangat besar terutama karena kami menggunakan kapal dari pulau Bali ke pulau Lombok maupun sebaliknya. Angin membuat kapal harus melaju dengan perlahan karena terjangan ombak yang besar. Selain itu angin dapat mempengaruhi kondisi kesehatan. Jadi saran kami terutama saya adalah pilih dengan bijak tanggal keberangkatan dan pastikan cuaca dan angin mendukung perjalanan anda.

Hari pertama kami habiskan menempuh jarak Surabaya – Bali – Lombok seharian penuh. Yup, seharian penuh. Kebayangkan capeknya. Apalagi malam sebelumnya susah tidur because of anxiety. Kami tiba di Mataram sekitar pukul delapan malam. Dengan kebaikan seseorang yang kami temui di dalam perjalanan, kami mendapatkan tempat menginap dan konsumsi selama dua hari ke depan for free. Yeaaay! Freeeeee. Kami berbincang – bincang dan makam malam. Karena tuan rumah ada acara, yakni persiapan acara ngaben untuk besok jadi kami bergabung dengan anggota keluarga yang lain. Tamu yang datang tidak banyak, karena memang acara utamanya baru akan diadakan besok siang.

Akhirnya kami malah ketiduran di ruang tamu. Tak lama berselang, kami disuruh pindah untuk tidur di kamar. Jadi kami pindah ke kamar. Sayangnya, tidak ada kipas angin. Gerah gilakk. Sumpah. Tapi, namanya juga gretongan yah. Ga boleh protes kan. Kami langsung tidur, bodo amat mau badan bau kek, lengket kek, gak peduli. Sudah capek banget di jalanan seharian.

Sebenarnya saat pertama kali memasuki rumah ini, bau kemenyan yang di bakar langsung menyergap hidung. Pada awalnya sih hidung terasa terganggu juga, maklum belum terbiasa. Bukan. Bukan karena bau nya busuk. Justru terlalu harum sampai hampir muak. Tapi enak sih, kalo dicium dari jarak yang tepat. Haha. Kemenyan ini dibakar terus menerus selama mayat yang didiamkan belum dibakar. Agar bau busuk yang berasal dari mayat tidak menyebar. Honestly selama menginap disana tak pernah sekalipun tercium bau busuk dari mayat. Fascinating! I wonder why. However, sampai sekarangpun masih tersisa rasa heran, bagaimana mungkin mayat yang dibiarkan selama tujuh hari delapan malam tidak mengeluarkan bau busuk sama sekali. Dan mayatnya masih dalam kondisi yang sangat bagus (menurutku, karena aku sempat melihat mayatnya untuk beberapa saat). 

Paginya, kami disuguhi sarapan nasi kotak. Kalau ga ditolong orang, ga tau deh mau makan dimana. Ini cerita nya benar – benar buta arah di Mataram. Nah, kami tanya pada pemilik rumah bagaimana cara untuk menuju ke pantai senggigi yang sangat terkenal di pulau Lombok. Bli Rama menyarankan kami untuk menggunakan angkutan umum di Lombok yang serupa dengan bemo. Kendaraan bemo yang berwarna kuning mustard ini jumlah nya sangat sedikit di Mataram. Karena memang jumlah penduduk yang tidak seberapa besar, jadi jumlah angkutan umumpun juga tidak seberapa banyak. Jangan lupa tanya ke bapak supir arah tujuan dari angkutan umum. 



Dari titik ini kami sempat kebingungan untuk memulai perjalanan kami. Jalanan masih terbilang sepi. Kalaupun ada mobil angkutan kuning, kami ragu. Jarang sekali mobil kuning ini lewat, dan seringnya para supir mengemudikan kendaraannya dengan kencang. Kami bertanya kembali pada orang yang berada di pinggir jalan. Bukannya menjawab pertanyaan kami, mereka malah menawarkan diri untuk mengantar. Well, nothing free of course. Si Lukman goyah, langsung aku tarik aja dia. Akhirnya kami menunggu mobil warna kuning ini lewat. Kami melambaikan tangan. Kami langsung bertanya mengenai tujuan ampenan, dan langsung naik ke dalam mobil. Ternyata bener.

Kami tiba di ampenan, dan melanjutkan dengan angkutan yang lebih kecil berwarna hitam. Angkutan ini beda dengan angkutan sebelumnya yang memiliki pintu di sebelah samping, angkutan ini memiliki pintu terbuka di belakang. Kejadian diatas kami ulang lagi. Pak sopir menurunkan kami tepat di depan pasar seni (art market) di sepanjang pantai Senggigi. Karena kami datang sekitar pukul 8 pagi, jadi saya maklum saja kalo masih satu dua toko saja yang sudah buka. Iya, kami sengaja berangkat pagi karena siang nanti kami tidak dapat melewatkan kesempatan untuk menyaksikan prosesi ngaben. Untuk memasuki kawasan pantai kami melewati jalan setapak yang dihimpit tembok kafe.


Kalau boleh komentar nih ya. Jujur, sejak dari awal masuk kawasan pantai Senggigi ini, kurang begitu suka dengan ambience nya. Let make a list about it:
    • Sepanjang garis pantai dipenuhi kafe, bar, dan hotel. Jadi akses dari jalan raya ke pantai sangat kecil dan jarang. (kami sempat kebingungan untuk masuk ke area pantainya)
    •  Masyarakat sekitar juga kurang baik dalam menjaga kebersihan
    • Satu lagi yang saya benci dengan keberadaan bar disekitar pantai, dipasir pantai ada pecahan botol beer. Bahaya kan!
    • Pantai ini seperti sudah jadi pantai pribadi milik cafe, bar, restaurant dan hotel.
    •  Pasir nya kotor. Well, let’s say ada sampah plastic juga yang bertebaran.


    So, pantai ini silahkan coret dari list tempat yang harus dikunjungi di pulau Lombok! Inget, hapus! Meskipun begitu pasar seni dan kerajinan di sengigi layak utuk dikunjungi karena harganya yang murah. Cocok untuk dijadikan tempat beli oleh – oleh teman dan sanak saudara. Sebagai gantinya pantai sengigi, di sepanjang jalan sebelum pantai senggigi terdapat beberapa pantai lainnya yang lebih layak untuk dikunjungi. Selain itu aku sempat melihat pura tua eksotik yang layak dijadikan tujuan wisata budaya. Silahkan mampir kalau kalian berada di daerah sini.







    Yang tersisa dari mengunjungi pantai senggigi adalah, amazed. Heran bagaimana mungkin pantai yang menjadi icon pulau Lombok sudah tak seindah dulu. Kecewa karena pemerintah, masyarakat dan wisatawan tidak saling bahu membahu melestarikan pantai ini. Sedih banget nggak sih. Sebagai backpacker, I didn’t expecting that this beautiful beach turned as kenjeran beach which is in Surabaya.

    Sebelum pulang kami mampir ke pasar seni senggigi. Abis sekitar Rp 200.000,- untuk oleh – oleh. Sumpah, berasa dirampok. Disini memang murah, tapi ingat untuk tidak kebobolan dalam berbelanja. Yang terkenal di Lombok adalah kain dan mutiaranya. Jadi jangan sampai melewatkan dua benda ini sebagai buah tangan.





    Sudah jam sepuluh, kami siap untuk kembali ke pusat kota. Sebelumnya kami sempat berhenti di sebuah minimarket karena kami kehausan. Kami lanjut naik bemo balik. By the way, ongkos untuk sekali naik bemo adalah Rp 5.000,-. Kalau anda tidak tahu harga angkutan disana, lebih baik bertanya pada warga sekitar dahulu. Bukan apa – apa, ini adalah salah satu upaya agar anda tidak mengalami pengalaman buruk serupa SCAM. Mungkin rugi nya tidak seberapa, tapi rasa kecewa karena telah ditipu sesame WNI itu dampaknya bukan hal yang sepele.

    Kami kembali tepat sebelum acara utama di mulai.

    Comments

    Popular Posts