Lost in Bali and Lombok for a week part 5


Bagi yang baru baca, silahkan buka link ini: part 4



Di perjalanan pulang dari pantai, jalur kami searah dengan keberadaan kampung suku sasak, desa Sade. Desa ini sudah terkenal diantara para turis dan pengunjung. Bahkan menjadi tempat yang harus di kunjungi apabila berkunjung ke pulau Lombok.
 
Jadi kami berhenti di kampung suku sasak, desa Sade. Kami langsung dihampiri salah satu warga yang memiliki inisiatif mulia (iye kaliii) untuk menjadi guide kami. Pasrah. Toh kami juga tidak bisa menghindari hal ini (ga mungkin kan ngusir bapak yang sudah menunggu kami dari tempat parkiran). Sebelum masuk gapura desa, kami melihat ada segerombolan ibu (turist, course) sedang narsis di depan gerbang dengan menyampirkan kain tenun kecil bertuliskan desa Sade, Lombok. Iseng, sumpah cuma iseng. Aku menghampiri mereka dan bertanya, “maaf kak, numpang tanya. Harga selendang kecil itu berapa ya kak?”

“Rp 110.000,- untuk tiga buah selendang kecil ini.” Mukanya bingung, sumpah.

“makasi atas infonya kak” sembari senyum.

“iya sih, kenapa kita tadi ga tanya orang lain dulu sebelum beli ini” kata ibu satu pada teman seperjalanannya. (ga sengaja dengar dari kejauhan). kekekek

Well, kami seperti ini mungkin karena efek trauma yang kami alami di pantai Putri Mandalika tadi. Haha. Pelajaran ini harus kami tebus dengan mahal kak. Sangat mahal. Sampai kami merasa jadi salah satu penderita sakit mental. Mahal kan, gak cuma rupiah kehilangan yang kami alami.


Kami memasuki gapura desa dan langsung berhadapan dengan rumah adat dari kepala suku atau kepala desa. Rumah ini adalah rumah yang paling besar diantara rumah yang lainnya. Dan hampir semua warga suku sasak sade ini menggunakan bagian depan rumah nya untuk berdagang. Barang dagangan sangat beragam, mulai dari kain tenun dan kain yang digunakan upacara adat, gantungan kunci, gelang, miniatur rumah penyimpanan hasil panen sampai pajangan. Well, ini bukan hanya desa budaya, tapi warga juga memanfaatkan status desa wisata dengan sangaaaaat baik!!

In fact, bahkan terlalu baik. How to explain ya.. hmm, ambience tradisionalnya hampir hilang. Karena perubahan yang terjadi. Mungkin sebagai bentuk konsekuensi atas kebijakan pemerintah yang menjadikan desa ini menjadi desa wisata. Kebijakan lokal yang dulu terasa sangat kental, kini perlahan mulai menghilang. Luntur. You can tell it as you enter the village. Well, ga munafik, perkembangan jaman juga memiliki peran dalam hal ini.



Kami berjalan melalui jalan setapak mengelilingi desa adat ini diiringi dengan penjelasan dari guide dadakan di depan. Lukman mendengarkan penjelasan dengan serius, dan aku mengambil beberapa gambar sebagai dokumentasi pribadi. Kami berada disalah satu sudut dari jalan setapak, dan bapak pemandu berhenti disebuah ‘toko’ kain tenun yang berada di sebuah beranda rumah. Usut punya usut, ternyata ini adalah toko yang dikelola oleh istri dari bapak pemandu (ketawa dalam hati). Pantesan dari tadi, kami hanya numpang lewat di depan toko yang lainnya. There’s nothing such as free lunch.

Awalnya kami berbasa – basi. Well, from the first time I don’t have the intention to buy the goods cause I’ve already have enough. But Lukman seems like want to buy more, at least to me. Karena dia masih tanya – tanya harga dari kain – kain tersebut. Dan akhirnya, Lukman tanya harga kain kecil seperti syal yang katanya digunakan di acara adat. Namun karena ini hanya untuk kepentingan komersil, di kain tersebut terdapat tulisan Sade Lombok. Si Ibu penjual membuka harga pada Rp 50.000,-. At first, I would like to stay out from his business. But he give me no choice. Karena sepertinya ibu penjual kekeuuh di harga awal.

Pada akhirnya, I butt in. Kita mau beli tapi dengan harga Rp 50.000,- untuk dua buah. Dengan tawar – menawar yang cukup alot, akhirnya kami membeli di harga Rp 55.000,- untuk dua buah. Satu untuk Lukman dan satu untuk ku. Dan uang mengalir sekali lagi dari dompetku. Emaaaaaaak!!!!!! We’re done. Kami balik ke penginapan.


Di tengah jalan, kami haus. Jadi Lukman masuk mini market sementara aku isi bensin motor. Kami melanjutkan perjalanan ditemani matahari terbenam yang cantik. Di suatu kawasan persawahan, aku sengaja berhenti dan mengambil beberapa gambar sunset. 

Subhanallah, cantik sekali. Kami sampai di dekat penginapan saat hari sudah benar – benar gelap. Why? Karena kami agak tersesat. Jalanan disini masih terlihat sama semua di mataku. Jadi kami berjibaku (lagi). Tanya – tanya arah (lagi). Karena kelaparan, kami mampir di warung tenda sate ayam yang berada tidak jauh dari penginapan kami.


Kami pulang dengan badan cuapeeek dan bau asam. Haha. Masuk ke ruangan masing – masing, kami membersihkan diri. Mandi dan lainnya. Lalu aku kembali main ke kamar Lukman bercanda dan berdiskusi mengenai destinasi yang akan kita kunjungi besok. Kami istirahat lebih awal karena besok kami akan memulai perjalanan. Rencananya kami akan mengunjungi beberapa air terjun dan melakukan wisata budaya di beberapa pura yang menjadi tujuan wisata.

Comments

Popular Posts