Lost in Bali and Lombok for a week part 2



Upacara Adat "Mangkisan Ring Geni" atau Ngaben

Lanjutan dari post yang sebelumnya : part 1

Kami tiba di rumah sementara, sudah banyak orang. Bahkan sudah ada kelompok pemain gamelan khas Bali. Dengan segala tetek bengek nya dari makanan sampai baju adat yang digunakan keluarga dan para tamu, bisa dibilang acara ini adalah acara yang paling menggambarkan kebudayaan dan adat dari masyarakat Hindu. Suer, ini wisata adat yang priceless. Gak hanya karena budayanya yang sangat unik dan kaya, namun juga untuk dapat mendapat kesempatan seperti ini sangat langka. Kami, terutama diriku pribadi sangat bersyukur kami diberi kesempatan untuk menyaksikan ada ini. Kalau di Bali kita mengenal ritual ini dengan ngaben, di Lombok masyarakat menyebutnya dengan “makingsan ring geni”.

Kami masuk ke dalam untuk menyaksikan tata cara pemandian mayat. Acara ini terdiri dari dua bagian, bagian awalnya mayat di mandikan oleh sanak saudara di bantu dengan beberapa ahli agama yang merapal doa. Membasuh mayat ini lumayan memakan waktu yang cukup lama. Mungkin agar benar – benar yakin bahwa mayat telah dibersihkan dengan benar. Bagian yang kedua adalah mayat di bungkus dengan beberapa lapis kain putih (kafan) yang juga diberi minyak wangi khusus untuk upacara seperti ini. Tidak lupa juga disiapkan beberapa sesajen dan uang bulat yang dirangkai.

rombongan pemain gamelan

Setelah mayat selesai di bungkus, mayat diangkat dan diputar beserta yang menopangnya. Kemudian dipindahkan ke sebuah peti mati khusus yang sudah dihias sesuai kedudukan dan derajat dari almarhum. Peti mayat yang saya lihat cukup bagus. Cause memang beliau yang meninggal ini keturunan bangsawan dan sekaligus orang dengan pekerjaan yang cukup berpengaruh. Lengkap sudah. By the way, karena acara ngaben ini merupakan sebuah ritual yang cukup penting, maka seluruh sanak keluarga hadir dalam hajatan. Selain itu tamu yang datang juga luar biasa sangat banyak.

Lalu mayat yang sudah dimasukkan ke dalam peti diarak ke Pura Dalem Arsana (Pagesangan, Mataram) yang menyediakan jasa untuk membakar mayat. Disepanjang jalan, alat music gamelan tak henti – hentinya dimainkan. Saat tiba di lokasi pembakaran, ternyata sudah ada mayat yang dibakar terlebih dahulu. Dalam area pembakaran mayat, terdapat dua space untuk membakar mayat. Untuk satu space, disamping kanan kiri sediakan batang pokok pisang. Mungkin fungsinya agar api tidak menjalar keluar. Juga disediakan dua alat pembakar yang berbahan bakar minyak.


barang yang disiapkan ketika memandikan jenazah

Mayat dibakar bersama dengan peti hiasnya sampai hampir jadi abu. Iya hampir, karena setelah pembakaran selesai, saya sempat melihat sisa tulang (besarnya hanya sebesar jari jemari anak kecil). Kemudian berpindah pada acara selanjutnya, dengan meja penuh sesajen dan makanan melimpah, terdapat beberapa monk yang melakukan ritual dan merapal mantra yang sama sekali tidak kita pahami. Dan tulang – tulang kecil tadi kemudian disusun kembali membentuk figure manusia sesempurna mungkin sembari para monk tetap komat – kamit mantra. Tujuannya adalah agar yang bersangkutan dapat ber-reinkarnasi dan memiliki figure atau tubuh yang sempurna (lengkap).

mayat diarak dengan peti hias





Setelah selesai dengan upacara di pura ini, lalu keluarga dan beberapa tamu undangan pergi ke salah satu pantai (sudah diberi tahu sih, tapi lupa namanya) untuk melarung abu jenazah. Sayangnya, aku dan Lukman tidak bisa ikut kesana. Dan kami kembali ke rumah sementara untuk bersih – bersih diri dan tidur. Yup, kalau malam disini sepi parah. Angkutan umum juga sudah jarang bahkan ga ada. Toh diluar kota Mataram, disini masih rawan dengan tindak kejahatan seperti perampokan dan lain – lain.

Comments

Popular Posts