Lost in Bali and Lombok for a week part 6
Jangan lupa baca postingan ini: part 5
Keesokan hari, aku sudah bangun dari pukul empat pagi. Wait, ini terlalu
pagi. Tidur lagi enak kali ya. Tapi kenyataan tak seindah bayangan, aku ga bisa
tidur lagi. Ini pasti gegara kalau di rumah aku kebiasaan bangun dini hari buat bantu ibu. Dan
kebiasaan itu tak bisa berhenti sejenak meskipun aku sedang berada jauh dari
rumah. Really, it kills me. Hah!!
Sepertinya Lukman belum bangun dari tidurnya. Aku mencoba mempacking beberapa
barang karena risih melihat ruangan yang berantakan karena barang – barang ku
berserakan.
Agak siangan, dengan bersih – bersih diri dan mempersiapkan
barang yang akan dibawa, aku menuju kamar Lukman. Darn! Lukman masih sama
seperti ketika dia pergi tidur semalam. Speechless sodara – sodara. Dia
akhirnya mandi setelah kantuknya hilang. Dengan banyak rintangan di pagi hari,
kami akhirnya bisa berangkat. Karena masih terlalu pagi, kami tidak melihat ada
warung makan yang sudah buka. Jadilah kami berdua mengelus – elus perut
kelaparan.
Ditengah perjalanan kami melewati pura yang menjadi salah
satu tujuan destinasi kami pada hari itu, tapi masih tutup. Jadi kami
melanjutkan perjalanan ke arah air terjun yang berada di kaki gunung rinjani.
Menurut ulasan di buku yang kami baca, air terjun ini layak dikunjungi karena
masih cukup alami dan keunikan dari air yang mengalir jatuh itu sendiri. Kami
sempat beberapa kali bertanya pada warga lokal karena kami merasa ‘hilang’ dari
jalan yang seharusnya kami lewati. Tapi ternyata tidak. Hampir sepertiga dari
jalan yang kami lewati merupakan jalanan menanjak dan keadaannya tidak terlalu
bagus.
Jalanannya berlubang dan tergenang air hujan yang kemarin
turun. Dan beberapa jalan bahkan berupa tanah menjadi licin karena hujan (this
is why, december is a bad time to visit Lombok island). Summer is the best time
to explore Lombok island and arounds. Jadi, for the safety sake aku memelankan
laju kendaraan motor ku dan sebisa mungkin menghindar dari jebakan betmen yang
tersebar. Suer, nyetir dengan kendaraan yang sama sekali asing bagiku melewati
jalanan yang sulit pula, membuat otot tangan sampai bahu ku tegang. Nyeri
adalah satu hal yang sudah pasti akan terasa. So, I’m highly recommend to use a
car instead of motorcycle.
Sampe di pos pertama Sembalun di kaki gunung Rinjani Lombok.
Sepi. Bahkan petugas loketnya pun masih belum tiba di tempat nya bertugas.
Iseng, aku tengok jam yang terpampang di layar HP, cyiiiiint masih jam 7
kurang. Pantesan bapak petugas nya belum dateng. Ada warga sekitar yang
menawarkan jasa nya untuk menjadi guide, mengantarkan kami ke dua air terjun
yang memang kami ingin kunjungi. Well, meskipun biayanya ga murah – murah
banget, boleh lah. Maklum masih terlalu pagi untuk mencari traveller lain yang
juga menuju air terjun. Yup, kami satu – satu nya pengunjung yang datang sepagi
ini.
Jadi kami menuju air terjun Benang Setokel dulu. Awal track
air terjun ini cukup landai dan bahkan menurun. But soon, we’ll be welcomed by
like dozens of stairs. Help me God! Dengan udara dingin menyelimuti
disekitarku, keringat mengucur deras dari sekujur tubuh. This is just like an
hellist exercise. Mengikuti jalan setapak. Menyeberangi sebuah sungai kecil
yang sejuk. There it is, hanya beberapa meter setelah nya, terhampar dua buah
air terjun yang terletak berdekatan. Kereeeen! Sebenarnya kami kesini tak
berharap banyak, namun Tuhan sepertinya sedang murah hati. Kami tidak kecewa
sama sekali.
Masih sepi. Mungkin kami adalah pengunjung pertama air terjun
ini untuk hari ini. Jadi berasa private waterfall. Kami puas berpose ria. And
thanks to the guide, kami punya foto bersama. Karena sejak kemarin kami hanya
berfoto secara individu. But still, we just friend. So we’re really cool about
it. Having a nice time while enjoying the view of the waterfall. Sure, we can’t
forget about taking picture. Haha. We really doing perfect for playing by our
self. Aku sight seeing, Lukman motret, dan sebaliknya. So, I really enjoy the
time. I do wish have so much time to spend here.
But then matahari sama sekali tidak muncul, bersembunyi di
balik awan. Ini situasi gawat. Atas saran dari bapak pemandu, kami beranjak ke
lokasi air terjun selanjutnya. But. Wait. This is crazy. This won’t do sir.
Bapak pemandu menggiring kami membelah hujan. Jalur yang kami lalui bukan lagi
jalur yang sudah dibangun dengan batu yang rapi.
| guide kami membantu melewati jalan menanjak |
Ini jalur tanah, tanah yang
menjadi lempung karena terguyur hujan
kemarin. Kesulitan dalam berjalan jadi berlipat – lipat rasanya. Well bayangkan
saja, selain jalanan licin karena tanahnya belum kering, track ini juga
menanjak bukan main serta terdapat halangan seperti pohon yang tumbang karena angin.
Di jalanan menanjak, aku tertinggal. Dan di jalanan yang agak
datar, kami istirahat sejenak karena kelelahan. Sumpah ya, kayak mandi tapi
pake air keringat sendiri. Bahkan di jalanan terjal bapak pemandu menolong ku
beberapa kali agar tidak terjatuh. At times like this, I do feel grateful. Kami
berjalan. Jalan. Jalan. Dan terus berjalan. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah
gapura kecil tanpa keterangan apapun yang merupakan pintu masuk air destinasi
kedua, air terjun benang kelambu. And I though, finally the hardship is over. Kami
berhenti sejenak untuk mengatur nafas sambil ngobrol. So I asked my guide:
“Pak, kalau mau balik harus lewat jalur yang tadi? Atau ada
jalan lain yang lebih landai dan manusiawi untuk dilewati?”
“Oh, ada kok mbak. Mbak bisa belok kanan sini dan tinggal
ngikutin jalurnya saja. Nanti bisa sampai di pos keberangkatan tadi”
“Haha, syukurlah pak. Rasanya mau mati saja kalau harus lewat
jalur yang tadi itu. Capek banget pak” meringis gue
“Kalau mbak mau, saya bisa panggilkan ojek buat jemput mbak
disini.”
“Ohhkk!! Bisa pak? Boleh deh, haha”
“Loh kom, kamu mau naik ojek? Gak jalan?” kata Lukman
“Kamu kuat tah kalo jalan jauh lagi? Aku sih udah gak kuat.
Kamu kalau mau jalan juga gapapa kali. Biar aku naik ojek sendiri aja”
“Kalau kuat sih kuat, tapi ga mau. Aku mau naik ojek aja”
So, kami setuju sama bapaknya, untuk manggilin dua ojek buat
kita.
Kami melanjutkan perjalanan.
But...
I was so damn wrong! Jalur yang kami lalui memang menurun, tapi ...
It is a really long stairs. Whaaaaaat! Kembali aku tertinggal
di belakang dengan nafas terengah. Gila yah, siapa coba yang bisa nyusun batu
sepanjang jalur ini? Siapa? Jarak tangga satu dengan tangga lain nya cukup
tinggi, this is the reason why my knees is in pain. Suara Lukman yang sedang
memanggil ku, membuat ku tak kehilangan akal saat sedang menuruni tangga. Coz I
think this stairs driving me crazy. Haha. Maybe, it sounds overwhelming. But I
do feel that way.
Setelah beberapa set anak tangga, aku bisa melihat air terjun
yang memang layak untuk di jadikan sebuah rekomendasi tempat wisata oleh
penulis buku panduan. Speechless. Ini jauh – jauh – jauuuuuh lebih bagus dari
hampir semua air terjun yang pernah aku kunjungi. Hampir, karena aku ga bisa
memutuskan mana yang lebih bagus antara ini dengan air terjun yang pernah aku
kunjungi di Tuban. Neck to neck deh. Beda tipis.
Namanya air terjun benang kelambu. Ngerti kenapa namanya
benang kelambu? Kalau air terjun biasa, air dengan debit yang besar menjadi
satu jatuh dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Itu biasa. Yang
ini luar biasa beda. Air dengan aliran amat kecil berjejer – jejer, berbaris
dengan jumlah mungkin ratusan aliran menciptakan sebuah kelampu dari tetes –
tetes air yang jatuh. Amazing. Cantik. Fabuloes. Mungkin kalau matahari sedang
bersinar cerah, akan muncul pelangi yang cukup besar. Tapi sayang sekali, cuaca
mendung dan matahari sedang tak ingin menampakkan diri.
Aku memperlambat laju kaki, karena tidak ingin terlewat
sedetik pun untuk menikmati keindahan air terjun yang tersaji di samping kiri. Honesly,
leher ku sampe pegel, nyeri. Haha. Bagus sumpah. Si Lukman yang khawatir karena
aku belum juga sampai, terus menoleh ke belakang sambil meneriakkan namaku.
Yah, dasar cerewet! Ku percepat lagi langkah kaki ini.
Sejenak kemudian, dengan nafas terengah aku duduk di pinggir
jalan yang merupakan jalur utama air terjun dengah menengadahkan kepala. Tak
habis – habis nya keheranan yang muncul. What a wonderful place. Subhanallah.
Bapak guide mohon pamit dahulu dan juga sambil memanggilkan ojek untuk kami.
Lukman yang narsis, dengan tega nya menjadikan aku sebagai juru foto
pribadinya. Maaaaaan, aku juga mau di fotoin loh. Jadi selama beberapa saat
kami mengambil gambar secara terpisah. Kemudian, saling mengambil gambar dari
satu sama lain. Setelah lelah, kami menghabiskan waktu dengan duduk – duduk
sambil menikmati pemandangan di depan kami.
Di bagian bawah air terjun ini disediakan dua buah kolam yang
dapat digunakan untuk berendam. Tapi jangan membayangkan kolam seperti yang ada
di waterpark atau kolam renang. Ini adalah dua buah kolam sederhana yang air
nya bersumber dari air terjun yang mengalirinya. Kolam ini bisa digunakan
berendam oleh pengunjung yang datang kemari. Well, sayangnya kami tidak membawa
baju ganti. Jadi, tips untuk kalian adalah untuk membawa baju ganti, siapa tau
ada fasilitas seperti ini :D but well, kalau ga salah aku sama sekali ga lihat
ada kamar ganti disini.
Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Kami berjalan kembali ke
gapura kecil, gerbang masuk ke air terjun ini, tempat janjian dengan tukang
ojek. Saat kami berjalan menanjak dengan nafas satu dua satu dua, hujan turun
dengan perlahan. This is not good. Jalanan tanah tadi bakal jadi lebih licin
dari pada sebelumnya. And it will be harder to get back to the start point. As
we waiting there, the rain is come and leave so intense. At some point, I just
push Lukman to walking along the path. He hardly listen to me. OMG.
Maybe cause its still too early or maybe because of rain, so
damn quiet. There’s noone around. Feeling so uneasy at this unfamiliar area. My
shirt is severe wet by my sweat and rain drops. Lukman tried to stop me, and
once I heard him. So we stop at the middle of forest. Not sure where to go. We
keep looking around, and put our guard on up. Yeah, I am a nature lover, but
this one I do feel lost. Trembling inside, tough outside.
Kami jongkok. Yup, jongkok. Disini ga ada kursi kan haha. Ga
berapa lama, terdengar suara gerungan mesin motor dari kejauhan. So relieved.
Muncul dua tukang ojek yang masih cukup muda. Setelah mengkonfirmasi pesanan
ojek, kami langsung naik dan minta diantarkan sebelum hujan datang kembali. Di
tengah perjalanan dengan jalur berbatu dan tanah yang licin, kami berbincang
dengan driver masing – masing. Lukman dengan tukang ojek yang satu, dan aku
dengan lainnya. Karena jalan yang licin, hampir – hampir aku menutup mata
ketakutan. Well, tapi menurut logika sih, mereka (tukang ojek) kan orang lokal
jadi mereka sudah terbiasa dengan jalur dan track yang ada disini. Bisa karena
terbiasa. Nothings to worry gitu. As we arrived, I just realized, kami ga ada
uang kecil. Untungnya warung yang ada didekat situ sudah buka, jadi kami beli
minum deh. Buat apa uang kecil? Buat bayar ongkos ojek dong.
Saat kami sedang bersiap – siap pulang di parkiran, datanglah
segerombolan gadis Lombok yang bermaksud berwisata di air terjun ke dua. Tapi
... anehnya, dandanan mereka lebih appropriate untuk hang out ke kafe atau mall
gitu. Celana denim, wedges, make up dll. Dengan jalan tanah basah dan licin
serta hujan yang sedang turun, I really didn’t gets what they’d think. I bet,
they’ll be hurting their feet or found their knees on the dirt. Mereka naik ke
atas dengan di pandangi oleh semua orang yang sedang berada disana. Mungkin
pada heran sama kelakuan gadis – gadis tersebut.
While I’m ready to go, aku menghidupkan mesin. Kami pulang.
Tak terasa perut kami berdua berbunyi. Dengan pagi yang dingin karena mendung
dan hujan sedari pagi, we’re craving for some warm soup like soto. Sepanjang perjalanan
pulang kami memandang awas di pinggir jalan, mencari warung soto yang sudah
buka. Tiba – tiba di tengah perjalanan, hujan turun dengan derasnya. Kami tidak
punya pilihan selain berhenti sejenak untuk memakai jas hujan. Syukurlah, aku
dan Lukman bawa jas hujan sendiri – sendiri.
Tapi, ternyata meskipun sudah
menggunakan jas hujan baju kami tetap saja basah. Why? Karena hujan nya kelewat
deras.
Dari kejauhan aku melihat sebuah warung yang menjual soto
ayam dan bakso. Warung ini cukup ramai karena sebagian pengunjungnya adalah
orang yang mampir karena hujan dan tidak membawa jas hujan. Lukman juga setuju
untuk makan pagi di warung ini. Jadi aku membelokkan kendaraan bermotor kami
menepi dan parkir di samping warung makan ini. Aku memesan soto ayam, berharap
untuk bisa menyantap nasi. Sedangkan Lukman memesan bakso. Di meja sudah
disediakan lontong, kerupuk, dan air minum dalam kemasan yang berukuran kecil
oleh pemilik warung. Pesanan kami datang.
Soto ayam nya looks so yummy even from far away. But... I
gets stunned. There’s no rice di dalam soto ayam ku. What a shock! Jadiiii,
yang membuat mangkuk soto ku terlihat penuh dengan gundukan adalah sayur yang
sangat aku hindari, kubis! Jadi sayurnya adalah kubis dan kecambah, dengan
proporsi kubis lebih banyak. Untuk kecambah, aku masih suka memakannya. Pernah
makan soto ayam dengan lontong? Pernah denger ada orang yang makan soto ayam
dengan lontong? Bagiku, aku ga pernah dan tidak ada rencana untuk makan soto
ayam seperti itu. I just have to bear it. Lukman eats so soundlessly.
Kenyang dengan soto (kubis), kami segera melanjutkan
perjalanan meskipun diluar hujan masih mengguyur dengan derasnya. Well, kami
tidak ingin terlalu siang. Pada akhirnya kami batal untuk mengunjungi pura –
pura yang ada di dalam itinerary kami. Kenapa? Karena baju kami basah meskipun
kami berdua sudah menggunakan mantel hujan. Yup, hujan yang kelewat deras
seakan mampu menembus mantel hujan kami. Meninggalkan aku dan Lukman yang
kedinginan dan merasa tidak nyaman dengan pakaian kami. Jadi, tempat yang kami
tuju adalah penginapan. Aku kembalikan kunci motor yang kami sewa, sehingga
hitungan sewanya hanya sehari saja. Lanjut bebersih di dalam kamar dan ganti
baju.
Aku dan Lukman menikmati waktu istirahat secara individu,
tapiii... pada akhirnya aku gabung di kamar Lukman karena merasa bosan di kamar
ku sendirian. Kami bercanda dan bergurau menikmati siang yang panas di dalam
kamar. Meskipun kamar Lukman tanpa kipas angin, tapi tertolong dengan adanya
jendela yang super besar menghadap ke tempat terbuka. Kami yang sedang lapar
namun malas keluar hostel memilih untuk menghabiskan bekal yang sudah Lukman
bawa dari rumahnya. Haha. I know, we’re so ridiculous.
Comments
Post a Comment