Wanita Dengan Kompleksitasnya



Setiap anak kecil di dunia ini, pasti suka mendengarkan dongeng dan kisah – kisah menarik. Bagi mereka, dunia dongeng adalah dunia fantasi yang hanya bisa di jelajah oleh orang – orang tertentu saja. Bagaimana mungkin? Untuk dapat menikmati dan menghayati sebuah dongeng, kita membutuhkan daya imajinasi yang tinggi.

Semakin tinggi daya imajinasi yang dimiliki, maka akan semakin tinggi pula tingkat  kepuasan yang timbul. Umumnya daya imajinasi anak – anak berada diatas tingkat imajinasi rata – rata dari orang dewasa. Kalaupun ada orang dewasa yang memiliki daya imajinasi yang tinggi seperti anak – anak, jumlah nya jauh lebih sedikit.

Sewaktu masih kecil, sama dengan anak – anak lainnya, saya suka mendengarkan cerita dongeng. Satu cerita dongeng yang sangat membekas bagi saya, adalah little mermaid. Terdapat beberapa versi mengenai akhir kisah dongeng tersebut. Dan ini merupakan versi yang pernah saya lihat dari animasi di televisi.

Putri duyung menolong seorang pangeran yang jatuh dari kapal karena ada badai dahsyat yang melanda. Pangeran ini sering melewati daerah perairan tersebut. Dan putri duyung telah memperhatikan pangeran tersebut sejak pertama kali. Pada saat putri duyung sedang menolong, sejenak pangeran membuka mata dan memandang putri duyung. Keduanya saling bertukar pandang. Pada saat itulah sang pangeran merasa jatuh cinta pada sosok yang sedang menolongnya.

Putri duyung membawa sang pangeran ke daratan dan menunggu sang pangeran sadarkan diri. Namun, karena datang seorang wanita, putri duyung yang tidak ingin dilihat oleh manusia pun segera kembali ke laut. Saat sang pangeran sadar, yang dilihatnya pertama kali adalah wanita dari daratan.

Pangeran mengira wanita tersebutlah yang dilihatnya ketika berada di kedalaman laut. Dan berasumsi bahwa dia jatuh cinta pada wanita tersebut. Sedangkan putri duyung menyaksikan hal tersebut dari kejauhan dengan sedih karena sang pangeran sepertinya lupa dengan dirinya.

Setiap hari putri duyung bersedih sendiri, sampai suatu ketika putri duyung berencana untuk menjadi manusia. Menukarkan ekor ikannya dengan sepasang kaki seperti manusia. Maka pergilah putri duyung ke sarang seekor penyihir bawah laut. Sang penyihir mengabulkan permintaan putri duyung untuk memiliki sepasang kaki, namun sebagai gantinya putri duyung harus menyerahkan suaranya.

Dengan sepasang kaki yang kini dimiliki, putri duyung terdampar di tepi pantai. Pangeran yang kebetulan sedang berjalan kaki di pinggir pantai, menemukan putri duyung yang sedang tidak sadarkan diri. Pangeran menolong putri duyung dan membawanya ke istana.

Ketika putri duyung sadar, kenyataan yang sedang dihadapinya adalah sang pangeran sedang mempersiapkan acara pertunangannya dengan gadis lain. Putri duyung berusaha menjelaskan dengan bahasa isyarat dan pandangan mata. Percuma. Sang pangeran sama sekali tidak memahaminya.

Putri duyung tetap bertahan, karena berpikir bahwa masih ada waktu sebelum pernikahan terjadi. Bahwa pangeran mungkin akan mengenalinya. Dan pangeran mendapatkan kembali kenangan yang hilang. Harapan yang sangat kecil memang. Namun hanya itu yang bisa dilakukan oleh putri duyung.

Pada detik – detik pangeran menikah, terdapat perbedaan ending. Versi yang pertama, sang pangeran tidak mendapatkan kembali ingatannya dan menikah dengan gadis lain. Karena putri duyung gagal mendapatkan cinta sejatinya, maka putri duyung menghilang. Berubah menjadi gelembung busa seperti busa yang timbul karena ombak. Muncul dan menghilang.

Ending versi yang kedua adalah pangeran mendapatkan kembali ingatannya dan batal menikah dengan gadis lain. Kemudian kembali ke pelukan putri duyung yang akhirnya berubah menjadi seratus persen manusia. Pangeran dan putri duyung menikah dan hidup bahagia sampai akhir usia.

Seperti kisah dongeng putri duyung diatas yang memiliki beberapa versi di bagian akhir cerita, kisah cinta kita sebagai manusia memiliki ending yang beragam pula. Versi pertama adalah kesedihan mendalam karena gagal mendapatkan cinta yang diyakini sebagai cinta sejati. Versi kedua adalah bahagia dengan cinta sejati sesuai dengan keinginan.

For every girls in the whole world, pilihan kedua menjadi sesuatu yang diharapkan untuk terjadi. Setiap gadis. Karena hal tersebut merupakan impian kita sebagai gadis, don’t we? But in the real life, kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.

Once I ever though bahwa akan sangat sulit menemukan seseorang yang memenuhi semua kriteriaku. Well jujur saja, hal itu menjadi semakin sulit karena saat ini saya tidak memiliki kriteria spesifik mengenai calon suami yang saya inginkan. Tapi kebanyakan gadis atau pun wanita pasti menginginkan suami yang perfect.

But this is not a fairytale. Tidak akan ada seorang pangeran yang tampan tanpa cacat dengan kepribadian yang sempurna dan berpegang teguh hanya pada satu wanita. Bagi wanita yang pesimis, mereka memiliki prinsip, “Pria tampan jumlahnya sangat terbatas, dan terbagi ke dalam dua golongan. Golongan pertama, taken. Golongan kedua, doyan lelaki”. Miris ya.

Wanita yang realistis, mengutamakan materi atau kemapanan financial sebagai kriteria utama. Dan penampilan atau visual diurutan agak belakang atau malah terakhir. Wanita yang satu lagi mengutamakan chemistry yang tercipta sebagai pasangan. Wanita yang lainnya, menjadikan kepribadian groom sebagai kriteria utama. See, setiap wanita memiliki preferensinya sendiri, dan kriteria yang berbeda dalam memilih pasangan hidup.

Meskipun begitu, sebagian besar gadis di dunia ini masih berharap untuk memiliki takdir seperti yang ada dalam cerita dongeng. Kami, setua apapun berharap dapat hidup bahagia. Sounds so unreal, yep. But thats the truth.

We are dreamer, aren’t we? It for our own sake.

My mom once said, that she wished me have a good groom. And I agree with my mom. Percuma kalau punya uang banyak, tapi suami tidak memperlakukan istri nya dengan baik. Nah, saking kuat nya keyakinan beliau, ibu bahkan tidak akan melarang jika aku menikah dengan pria yang berpenghasilan rendah. Uang bisa dicari. Begitulah.

Tapi sayang aku tidak sepenuhnya setuju dengan ibu. Meskipun dasar pondasi agama penting untuk membentuk perilaku dan sikap laki – laki, namun bukan berarti finansial tidak berperan penting. Anggap saja bahwa agama adalah syarat pertama, dan finansial yang stabil adalah syarat yang kedua.

Karena bagi saya, yang harus memenuhi semua kebutuhan rumah tangga adalah suami atau kepala rumah tangga. Jadi masalah finansial tentu menjadi issue yang harus dipertimbangkan dengan masak. Dan kebanyakan wanita memiliki mindset seperti ini. Kalau orang bilang, wanita itu rumit. Salah besar. Wanita terlalu banyak pertimbangan, gitu aja sih.

Intinya, wanita memang memiliki kriteria berbeda dalam memilih pasangan hidup, tapi pada dasarnya mereka hanya ingin memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia. Karena kegagalan rumah tangga merupakan momok yang menakutkan bagi wanita.

Comments

Popular Posts