One-Day-Trip at Blitar with Laily




Kamis, 28 Agustus 2014. 03.00 AM

I woke up with my phone rang at my ear. I look up on my phone, and there’s a message from Laily. It’s said that she can’t pick me up cause her mother feeling uneasy about it. I’m in dazed for awhile. It wouldn’t be if I have my motorcycle ready.  Yeah, Chilap was sold a few days before.

With half asleep, I walk to my mom and told her about the message. Wish my mom would give me some solution, but it didn’t happen. My mom burst into morning bird. Ugh! This is totally disaster in the early morning. I end up with sending Laily an answer that I really didn’t have a way from this problem.

Then Laily ends with picking me up without her mom knowing it.

This trip is really rough even in the very early morning. Yup, we’ve been planning an one day trip to Blitar by train. After my mom left, I’m strolling around to get ready. Having a hard time to choose between a blouse with abstract motif which is belong to my mom or motif less long shirt mine. With an A-skirt-colourful-pattern and red hijab, I’m getting my make up ready.



At 04.15 Laily is arrive at my house. I’m so frustrated because I’m not ready yet. So I take the things that I really need to take with. But a few things are left behind because I forgot to grab that. I ask Laily, the time of departure. And she answered that we still can make it. Feeling relieved. Thanks to her who perfectly prepared the ticket reservation. Love ya beb.

After 10 minutes, we’re arrived at Gubeng rail station. With the tight schedule, we still can take a time to pray, subuhan, at the rail station. Another thanks to my super woman. *kiss*. In no time, the train arrived. We are in hurry to get in the train and find our seat. From Gubeng rail station, we’re heading to Blitar rail station. It’s takes six hours. So long. 

And we both can’t take a nap. Don’t know why? Funny, even back then I’m tired cause sleepless. Laily and I spent the time with talking about anything, joking, etc. At 7.00 AM I just can hear the sound of my stomach. Fortunately, I’ve prepared some bread. So we have a nice breakfast at the train.
Pemandangan yang tersaji dari jendela sungguh memikat hati. Kami berdua tak bosan – bosan menghabiskan waktu mengobrol sambil memandang keluar.

By the way, this is the first time for me travelling while wearing a skirt. This skirt do makes me more feminine. Tapi sehari sebelumnya, aku sudah bertanya kepada Laily, apa dia memakai skirt or not? Ternyata Laily said yes. Makanya aku berani pake skirt. Hihi. Ternyata pake rok panjang tidak buruk. Nyaman banget malahan. Besok – besok mau deh pake rok lagi.

Setelah beberapa jam kami habiskan dengan nyaman, kereta kami tiba di stasiun kota Blitar.

Dengan gembira kami menghambur keluar dari gerbong kereta api. Yang pertama kami cari dengan terburu – buru : toilet!
 
Bagusnya toilet di stasiun kereta api kota Blitar ini, bersih dan ada keterangannya ditempel dengan besar. Selain itu, gretongan cyint!! Haha. Maklum deh ya, backpacker sehemat mungkin. Berdua kita benerin kerudung dan pake sunblock. Why? Karena kita bakal berpanas – panas ria keliling kota Blitar, jadi paling tidak harus apply sunbock dong ya girls.

Keluar dari kamar mandi, kami berencana untuk beristirahat sejenak di stasiun kereta kota Blitar. Tapi ternyata masih ada segerombolan tukang becak yang menawarkan jasanya. Karena kami belum menentukan kendaraan yang akan kami gunakan berkeliling kota, jadi kami menanyakan ongkos yang harus kami bayar. Salah seorang tukang becak bahwa tarifnyaa adalah 20 ribu untuk stasiun kota Blitar – makam Ir. Soekarno. Karena menurut kami ongkos yang ditawarkan cukup murah, jadi kami setuju. Dalam perjalanan, si bapak tukang becak yang belakangan diketahui nama nya Pak Pri, menawarkan untuk mengantarkan kami keliling hanya dengan ongkos Rp 60.000,- saja. Laily menanyakan pendapatku, I agreed it.

Diperjalanan, kami melewati stadion sepak bola kebanggaan masyarakat blitar. Dari luar gedung ini ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan stadion sepak bola milik kota Surabaya. Gedung yang didepannya tersedia sedikit lahan ini, di dominasi oleh warna merah. Tidak hanya itu, alun – alun kota Blitar juga di dominasi oleh warna merah. Sepertinya, warna merah menjadi symbol untuk kota Blitar. Di sisi sebelah kiri alun – alun kota, terdapat masjid besar dengan desain arsitektur yang indah. Sayangnya, kami tidak berkesempatan untuk sholat masjid tersebut.






Kami tiba di area makam bapak Ir Soekarno. Area ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama yang langsung menyambut pengunjung adalah perpustakaan nasional republik Indonesia, UPT PERPUSTAKAAN PROKLAMATOR BUNG KARNO, KOTA BLITAR.



Dari area yang pertama ini di bagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah galeri yang berisi tentang bung Karno dari foto sampai buku. Bagian kedua adalah perpustakaan koleksi umum. Yang terakhir adalah perpustakaan dengan koleksi buku anak dan remaja. Di tengah – tengah terdapat patung bung Karno sedang duduk yang ukurannya cukup besar. Kemudian melalui sebuah kolam kecil yang berisi ikan hias, kami menuju gerbang untuk masuk ke area ke dua, yakni makam bung Karno.

Makam bung Karno ini yah.. hhmm, how can I explain it? Bentuknya seperti rumah pendopo tapi tanpa sekat. Atap nya selayaknya pendopo jaman dahulu. Dan atap bagian dalamnya penuuuuuuuh, yak penuh dengan ukiran. Pahatan tangan sebanyak itu, kebayang gak waktu yang habis untuk menyelesaikannya? Mungkin lebih dari sebulan. Lantainya terbuat dari marmer yang kuat. Kelebihan dari marmer ini, dia tidak hanya kuat, tapi juga menyerap hawa panas dan memberikan efek dingin.

Dibagian sebelah kanan, terdapat musholla yang meskipun mungil namun terlihat menawan karena sentuhan ukiran di pintu dan jendelanya. Di musholla terdapat beberapa orang yang beribadah. Karena kebetulan waktu dhuhur sudah lewat. Sedang diseberangnya, terdapat balai serbaguna yang juga tak luput dari sentuhan ukiran.

Setelah selesai membacakan doa dan menikmati ambience area ini, kami berjalan menuju keluar. Untuk keluar kita melewati sebuat taman kecil yang berada tepat dibelakang pendopo makam, dan juga lorong panjang yang dipenuhi pedagang. Pendagang ini menjajakan segala macam, mulai dari baju sampai dengan jajanan khas Blitar. Lorong ini cukup panjang dan panas. Terang saja, keringat mengucur deras dari semua pori – poriku.

Keluar dari area lorong pasar, kami menghadap pada sebuah jalan raya. Di seberang jalan raya ini, masih berjejer pula pedagang yang menawarkan oleh – oleh khas Blitar. Laily tertarik pada sebuah toko baju yang menjual batik dan kaos oleh – oleh khas Blitar. Dan akhirnya Laily membeli sebuah kaos dengan gambar bapak Ir Soekarno dan quote untuk adiknya, Iqbal. Cukup murah harganya.

Comments

Popular Posts