One-Day-Trip at Blitar with Laily part 2
Pak
Pri tiba untuk mengantarkan kami ke istana Gebang. Rumah dimana mantan presiden
Ir Soekarno menghabiskan sebagian waktu dalam hidupnya disana. Rumah ini sangat
terawat, meskipun dalam perkembangannya masih harus dilakukan renovasi di
sebagian sudut. Barang – barang yang ada disana masih sama seperti saat
mendiang Ir Soekarno masih hidup. Disalah satu sudut rumah, terdapat beberapa
kenangan atau plakat yang di berikan oleh beberapa instansi atau rombongan yang
pernah berkunjung ke istana ini.
Kami
berdua berpisah dan berjalan sesuai keinginan sendiri, sementara seorang
pemandu yang disediakan oleh pihak istana berusaha memberikan penjelasan
mengenai sejarah dari istana ini. Iya, karena kami sibuk mengamati sendiri
sehingga tanpa sengaja tak mengacuhkan penjelasan pemandu. Feeling sorry for
her. Jadi sesekali kami berhenti untuk bertanya dan mendengarkan ucapan pemandu
tersebut.
Oh
iya, masuk ke dalam rumah ini tidak di pungut biaya sama sekali, sama hal nya
ketika kami memasuki kawasan galeri – perpustakaan – makam bung karno.
Gratististis. Namun di galeri, perpustakaan dan di istana Gebang kita wajib
mengisi buku tamu yang disediakan. Aku kurang tahu alasan dibalik keberadaan
buku tamu ini. Tapi, selama gratis, why not? Freebie. Yup, karena pada dasar
nya kami berdua ini backpacker yang melakukan perjalanan dengan cost seminim
mungkin, maka wajar kalau kami pecinta gretongaaaaan! Haha
Setelah
selesai melakukan tour semi mandiri di istana Gebang, aku dan Laily mencoba
untuk berpose di depan halamannya. Kami mencoba gaya levitation. Sebagian besar
gagal. Foto dengan konsep ini benar – benar menguras tenaga dan menimbulkan
efek samping pegal badan. Kami berdua kelelahan hanya untuk beberapa foto melayang.
Kurang kerjaan ya. Tapi ada kepuasan sendiri ketika melihat hasil jepretan
memenuhi atau bahkan melebihi ekspektasi.
Capek.
Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Destinasi selanjutnya adalah
pusat oleh – oleh khas Blitar yang menjadi recomendasi Pak Pri. Sayangnya!
Unfortunately, tokonya tutup. Aku batal belanja oleh – oleh. Sebagai ganti Pak
Pri mengantarkan kami ke sebuah taman yang digunakan warga Blitar untuk
menghabiskan waktu sore dan weekend. Taman ini dilengkapi dengan koleksi
tanaman dari tanaman yang berasal dari belahan dunia lain. Selain koleksi
tanaman, terdapat sebuah kandang raksasa yang berisi koleksi burung, beberapa
kandang kecil juga yang berisi burung, kera dan lutung. Taman ini baru selesai
di bangun dan menghabiskan banyak dana. Dengan dominasi warna merah, dan
beberapa alat permainan anak, taman ini hadir menjadi sarana untuk bersantai.
Sebentar
saja kami menikmati taman ini. Well yah, di Surabaya juga punya sedikitnya dua
taman yang memiliki fasilitas seperti disini. Yang membuatnya berbeda adalah
beberapa jenis tanaman yang berasal dari Negara India dan lainnya. Oh iya, ada
peacock juga, tapi sayangnya sendirian tanpa pasangan. Kami kemudian beranjak
untuk makan pecel terkenal di Blitar. Saking terkenalnya, sampe punya beberapa
cabang di Blitar ini.
Kami
masuk ke dalam salah satu cabang dari warung Pecel Mbok Bari. Kami memesan dua
porsi nasi pecel tanpa lauk tambahan. Cause we really want the original taste.
Saus pecel mbok Bari ini agak kasar. Saat menyantapnya yang pertama kali terasa
dilidah adalah rasa manis, disusul dengan tendangan rasa pedas. Sayur nya
direbus dengan sempurna, dan tekstur renyahnya masih sangat terasa. Dan yang
khas lagi adalah rempeyeknya. Rempeyek biasanya di goreng dengan irisan kasar
kacang tanah, namun disini rempeyeknya ditaburi ikan teri asin. Sangat sesuai
dengan bumbu pecel yang pedas dan manis.
Dengan
lidah dan perut yang puas, kami kembali menaiki becak Pak Pri menuju warung
yang menjual es pleret. Es pleret adalah minuman dingin yang terkenal di
Blitar. Es ini hampir sama dengan es dawet. Yang berbeda hanya bulatan –
bulatan kecil berwarna pink dan hijau yang didalam nya terdapat gula merah
cair. Saat menggigit bulatan yang berisi gula merah ini di dalam mulut, akan
terasa bunyi pleret yang timbul karena cairan gula merah keluar dari lubang
akibat digigit. I’m amazed. Haha
Lokasi
es pleret ini berada tepat di samping alun – alun kota, jadi mudah untuk
ditemukan. Dan kami lanjutkan perjalanan dengan menghabiskan sisa waktu di alun
– alun kota. Kami mengelilingi alun – alun kota yang besarnya setara dengan dua
kali lapangan futsal. Di tengah – tengah, terdapat satu pohon beringin yang
sangat besar, pohon ini dikelilingi dengan pagar yang berwarna merah dan putih.
Hanya sebentar saja waktu yang diperlukan untuk mengelilingi alun – alun kota
ini.
|
No.
|
Rincian
|
Harga
Satuan
|
Harga
|
|
1
|
Tiket KA Surabaya - Blitar PP
|
Rp 5.500,-
|
Rp 11.000,-
|
|
2
|
Makan 2x
|
Rp 8.000,-
|
Rp 16.000,-
|
|
3
|
Ongkos Becak keliling Blitar
|
Rp 60.000,-
|
Rp 30.000,-
|
|
4
|
Es Pleret
|
Rp 2.500,-
|
Rp 2.500,-
|
|
|
Total Pengeluaran
|
|
Rp 59.500,-
|
Karena
kelelahan, kami berdua memutuskan untuk duduk di atas rerumputan. Kemudian
dilanjutkan dengan tiduran dan groupies. Kami mengambil foto dengan berbagai
pose. Capek. Akhirnya kami berhenti dan menikmati sinar matahari sore yang
bersinar cerah. Hampir pukul lima sore, kami berjalan menuju stasiun kota
Blitar. Just need about 10 minutes. Kami masuk ke peron dan menggunakan kamar
mandi untuk berbenah diri. Iya, muka sudah kusam tingkat akut.
Dan
we’re so lucky. Karena kereta kami agak terlambat, jadi kami harus menunggu
distasiun lebih lama. Saat itu adalah waktu untuk matahari kembali ke
peraduannya. Kami melihat sunset yang paling indah yang pernah kami saksikan
selama travelling. Even we’re not able to see sunrise from the train, but we
got the beautiful sunset at the rail station. Lengkap sudah perjalanan kami ke
Blitar dengan datangnya kereta api kami.
Wish
we will have another chance to be together in the other trip.
By
the way, nice shot! Thanks Blitar




Comments
Post a Comment