Lost in Bali and Lombok for a week part 7

Don't missed the previous post :  part 6



Sore menjelang, air minum kami habis. Jadi kami putuskan untuk pergi ke mini market terdekat untuk membeli keperluan kami selama berada di hostel. Oh, by the way, karena selama disini hujan terus, aku kehabisan stock baju bersih lebih cepat dari pada perkiraan ku. Damn. Karena teringat akan persediaan baju yang kian menipis. Iya, bukannya aku hobi gonta ganti pakaian supaya terlihat trendi, bukan. Tapi karena hujan yang mengguyur tiap hari sehingga membuat ku over used persediaan baju. Sedih. Aku bertanya kepada kasir perempuan tentang lokasi penjual baju kaos yang murah dan dekat. Beruntung pramuniaga nya baik, katanya pas di depan mini market waktu malam terdapat beberapa pedagang kaki lima yang menjajakan beberapa barang kepada turis semacam saya. Thanks to her, aku beli dua buah kaos dengan harga yang lumayan murah.

Bingung kenapa lokasinya di depan mini market? Menurutku wajar pedagang tersebut menjajakan dagangannya disini. Why? Karena lokasi mini market ini bersebelahan dengan pintu masuk Hotel Lombok Plaza. Jadi turis yang datang menginap di hotel tersebut merupakan konsumen potensial bagi pedagang kaki lima yang berada disini. Jadi masuk akal dong. Bagi turis yang tidak punya waktu untuk berkeliling membeli oleh – oleh di tempat lain karena alasan jadwal atau yang lainnya, kehadiran pedagang kaki lima yang menjajakan oleh – oleh khas Lombok disini merupakan solusi mujarab. Simbiosis mutualisme.

Pedagang disini sepeti nya bukan asli lokal. Yup, looks like mereka ini merupakan orang perantauan yang mencari rizki di pulau yang terkenal dengan mutiara lautnya ini.

Balik lagi deh yah, usai dari mini market kami mampir di sebuah rumah makan ayam bakar taliwang yang letaknya hanya beberapa meter dari tempat kami menginap. Namanya, “Taliwang Khas Pak Udin”. Alamatnya di jalan Gelatik No. 2B – Cakranegara. Cpnya: 081803650454 / 081917802532. Masih sepi. Mungkin karena bukan jam makan siang maupun makan malam atau mungkin karena masih buka? Dunno! Hehe. But we’re so lucky. Karena dari sejak kami tiba disini, rumah makan ini selalu rame. Penuh sesak dengan penggemar kuliner. So, bisa disimpulkan bahwa sajian di rumah makan ini enak bingits kan. Makanya, kami jadi penasaran. 

Lagi pula tak lengkap rasanya berkunjung ke pulau Lombok tanpa berwisata kuliner juga. Meskipun masakan khas Lombok terkenal dengan pedasnya, tapi aku tak gentar sedikitpun untuk mencoba kuliner asli khas pulau mutiara ini.

Awalnya sempet kagok sih, bukan karena aku penakut. Tapi karena kami berada di kawasan yang berbeda dengan budaya yang berbeda pula, jadi kami bingung. What to do? Kami tidak tahu sistem yang digunakan di rumah makan ini. Jadi kami sempat duduk bengong saja. Sampai... akhirnya datang seorang pelayan yang terlihat gemas dengan tingkah laku kami. Untuk ukuran rumah makan yang sangat laris disini, pamusajinya judes juga ternyata. Haha. Kami memesan dua porsi ayam bakar taliwang, tiga porsi nasi, satu porsi plencing kangkung, teh botol untuk Lukman dan dua bungkus krupuk rambak.

Iya, porsi nasi ku dua. Haha. Plencing kangkung untuk kami berdua. Sedangkan krupuk rambak merupakan pengeluaran milik Lukman pribadi.


Kami menunggu hampir dua puluh menit. Maklum deh ya, nunggu ayamnya selesai dibakar sampai matang. Pesanan kami datang datu persatu memenuhi meja yang berada di depan kami. Senyum mulai mengembang di wajahku. So long ga makan ayam bakar! Ekekek. Plencing kangkung ini pedasnya nampar banget, tapi bikin nagih terus. Akhirnya semua kandas dan berpindah ke dalam perut kami. Waktu nya membayar tagihan. Saat si kasir sedang menghitung harga yang harus kami bayar, si Lukman tiba – tiba tertegun memandang nota yang sedang ditulis. Kenapa nih anak?! So I asked him, “why?”

“kerupuk rambak yang aku makan tadi, kamu tahu harga nya berapa?”

“he- berapa emang?”

“empat ribuan kom. Jadi 8ribu, soalnya tadi aku makan empat bungkus. Bagi dua yah plis”

“hahahahahha, syukurin. Issssh, enak aja.”

“kalau gak gitu kamu yang bayarin plengcing kangkungnya yah, plis kom. Plis”

Dan begitulah, aku berakhir dengan membayar penuh harga plencing kangkung yang seharusnya dibagi dua. Kagak tahan liat muka melas di wajah Lukman. Hhaha. Sorry bro, but that’s true. Meskipun begitu, bagian Lukman tetap lebih mahal dibandingkan dengan milikku. Ya Tuhan, nih bocah ada – ada aja.


Malamnya kami kembali jalan kaki ke jalanan utama untuk membeli baju. Yup, aku membeli dua potong baju. Aku beli kardus dalam perjalan kembali. Buat apa kardus? Untuk mengirim paket ke rumah. Isinya apa? Sebagian oleh – oleh, baju kotor dan buku yang tidak sempat untuk dibaca. Lukman juga menitipkan barangnya dalam kardus ini. Karena mobilitas kami lebih banyak bergantung pada kendaraan publik yang kurang nyaman, maka kami memutuskan untuk mengirimkan barang – barang yang sudah tidak kami gunakan lagi ke rumah ku melalui ekspedisi. Kardusnya lumayan berat lebih dari 3 kg.

Selain itu, barang bawaan kami jadi jauh lebih banyak dari pada saat kami berangkat. Backpack ku yang bentuknya semi – carier pun tidak kuasa untuk menampung semua. Duh, mungkin karena kami kalap dalam membeli oleh – oleh disini. Kami, terutama aku yang barang bawaan awalnya lebih banyak dari pada Lukman, kesulitan dalam mengatasi bawaan ini. There’s no way for keeping that all with us. Huh.

Begitulah, kami menghabiskan waktu untuk membagi barang yang akan kami kirim ke rumah dan yang akan kami bawa bersama kami. Btw, sebenarnya kami tidak perlu khawatir mengenai bagasi pesawat, karena sudah prebook bagasi 30kg. Yup. Kebanyakan kayaknya yah. Tapi kepakek kok.

We’re ready for tomorrow.

Comments

Popular Posts