a Bunch of Disillusion at November



Family.

Apa yang akan terlintas di ingatan kalian saat mendengar kata di atas? Momen kebersamaan dengan keluarga di besar saat merayakan lebaran bersama? How good are your relationships with them?
Dari sekian banyak anggota keluarga baik dari keluarga maupun keluarga ibu, hanya beberapa di antara mereka yang bisa kuanggap dekat. But, seberapapun dekat hubungan ku dengan sepupu ku baik dari keluarga ayah maupun ibu, tetap saja aku merasa awkward ketika kami lama tak berjumpa dan harus berhubungan melalui sms atau media lain.

Well, jujur saja, aku bahkan tidak punya no kontak dari semua sepupuku. Ini hanya aku, atau kalian juga merasakan hal yang sama dengan ku. Tapi ketika kami berkumpul dengan keluarga besar, aku berani jamin, aku bisa membaur dengan baik. Atau mungkin tidak.

Aku masih ingat saat kami bermain menjadi peri. Iya, benar. Peri. Waktu itu kami hanya anak kecil polos yang hanya ingin menghabiskan waktu dengan bermain. Kakak sepupu ku yang hanya berjarak satu tahun dengan ku, merupakan sepupu yang paling aktif dan mudah dekat dengan orang lain, tanpa memandang umur. Aku, agak sedikit mengalami kesulitan untuk dekat dengan orang yang lebih dewasa dari aku. Sedangkan yang sepupu yang satunya, Diah; jauh lebih pemalu dibandingkan aku.
Harus aku akui, Novi kakak sepupu ku memang unggul dan terkesan menjadi ‘pemimpin’ diantara kami bertiga. 


Waktu berlalu, kami menumpuh jalan yang benar – benar berbeda satu sama lain. Aku dengan cita – cita ku mengejar gelar sarjana. Diah dengan suaminya yang kini membesarkan buah hati mereka. Dan sayang nya, Novi putus sekolah karena sudah bosan belajar.

Bisa dikatakan, kami tumbuh menjadi stranger (?)

Semakin dewasa, kami juga merasa semakin kesulitan dalam berkomunikasi. Sounds bad. But its true. We keep racing with time as we became awkward to each other.

3th November 2014
I wake up as I did. Waktu aku sedang mengupas mangga, tangan ku teriris sedikit. I have no idea, this is a bad sign from God. Kemudian aku berangkat ke kampus. Nothing’s special. Namun, perasaanku sedang tidak nyaman. Tepat pukul dua belas siang, aku sampai di rumah dan menemukan keadaan rumah yang sedang kosong melompong. This is weird. Aku mencoba menghubungi ayah – ibu, namun kedua nya tidak bisa dihubungi. Kemudian ibu menelponku, member kabar bahwa Novi sedang ada di rumah sakit dalam keadaan kritis. Detik itu, aku tidak memikirkan hal buruk sama sekali. Dan menyangka bahwa itu hanya kondisi sementara.

At noon, my mom called me and said “mb, Novi sudah meninggal”

I just can believe it. Seperti angin di musim hujan. Biasa saja.

Hemm, I still stubborn, and thought that my mom is pulling a prank to me.

Later, when my mom home, she told me EVERYTHING.

I never knew, this kind of moment would came and destroy my uncle.

And I cried. I just can’t accept it.

The point is, mumpung keluarga kalian masih hidup, jangan sia – siakan waktu yang ada. Bangun hubungan dengan baik agar tidak ada penyesalan yang menyelinap di kemudian hari. Family adalah hal paling dasar bagi seorang manusia. Disana kita mendapat segala yang berarti. Bahu untuk bersandar ketika lelah. Rengkuhan hangat yang tersedia ketika sedang menangis. Penting nya peranan keluarga tidak bisa diungkapkan dengan kata – kata.

Aku masih ingat cerita mama, di saat Novi sekarat dan akan di bawa ke rumah sakit. Novi meminta untuk digendong ayahnya. Permintaan terakhir yang penuh arti. Meninggalkan kesan mendalam pada om ku.

Untuk Novi:
Ada rasa sesal di hati karena ada jarak diantara kita sampai di akhir hayat mu.

Namun segala kenangan yang pernah kita buat bersama, sudah lebih cukup untuk menghangatkan hati ku.

Dari mu pula, aku belajar untuk menjaga kedekatan dengan sanak saudara kita. Meskipun sulit, aku akan belajar dengan perlahan.

Baik – baik disana saudara ku, semoga kau berjumpa dengan adikku, Karin. Bermainlah dengannya, habiskan waktu bersama, suatu saat nanti aku akan menyusul kalian.

Selamat tinggal
Sampai jumpa kembali

Comments

Popular Posts