WISATA BUDAYA di KOTA MALANG


And once again I got an invitation to go on a trip.

I am didn’t want to complain about it, but grateful instead. It did prove that I am a good travel mate, didn’t I? Hihi


Laily mengajak aku untuk kembali menjelajah bumi Malang. Karena Malang Raya luas, jadi ada banyak hal yang bisa kami jelajahi, mulai dari gunung, air terjun, pantai dan bahkan wisata sejarah. Sejauh yang aku tahu ada beberapa candi peninggalan kerajaan hindu yang ada di wilayah ini. Menarik bukan? Selain itu disini juga pusat taman bermain di Jawa Timur... Jadi tak heran kalau gelar kota wisata melekat di kota ini.


Kali ini Laily mengajakku untuk pergi ke candi penataran yang berada di Blitar. Karena akan sangat tidak efektif kalau kami hanya pergi ke satu tempat wisata, pada akhirnya kami mencari lokasi wisata yang satu arah, dan hasil nya adalah bendungan sutami atau biasa disebut bendungan karangkates oleh warga. Karena untuk mencapai kota Blitar kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam dari kota Malang, Laily menyarankan agar aku naik kereta ke Malang supaya aku tidak merasa kelelahan karena harus duduk kaku di atas motor selama 4-8 jam.


Aku setuju dengan pertimbangan tersebut, dan mulai mencari informasi mengenai tiket kereta api.... dan rupanya PT KAI sudah merevisi kembali tentang pembelian tiket kereta ekonomi jarak dekat. Kali ini aku harus antri membeli tiket paling cepat DUA JAM SEBELUM JADWAL KEBERANGKATAN KERETA. Aku lelah hati dengan perubahan peraturan ini, karena menurutku ini adalah sebuah kemunduran. Dan aku harus tergopoh – gopoh di pagi hari supaya mendapatkan tiket kereta api. Duh, #tepokjidat.


Dan kebetulan pada hari yang di tentukan, Isol (adekku) jadi panitia di acara ulangtahun kantornya. Sehingga motor yang seharusnya bisa aku pakai untuk ke Malang, sudah pasti dipake dia. Jadi aku ngalah dan memilih untuk pergi ke stasiun dengan kesadaran tak penuh.


Hari H, 29 November 2015


It’s fascinating how something changed rapidly over a few months. Sekarang ada pagar yang membatasi peron dengan lintasan kereta api, dan beberapa perubahan lainnya. Well, I guess it’s done for good.


Aku selesai mengantarkan mamak ke pasar seperti biasanya. Sesampainya di rumah, tanpa membuang waktu aku segera mandi dan bersiap – siap. Disela – selanya aku membangunkan Isol untuk mengantarkan aku ke stasiun. Aku memintanya untuk menungguku sampai aku mendapatkan tiket kereta. The worst scene is if I didn’t get the ticket, then he had to take me to the bus station.


Aku dapet tiketnya! Uyeaaah... aku melambai ke arah Isol dan menyuruhnya untuk segera pergi ke kantor sementara aku duduk di kursi menunggu kereta datang. The sure thing is, berpergian sendiri itu membosankan.


Karena membosankan aku mendengarkan music di sepanjang jalan. Berharap semoga kereta api sampai di tujuanku. Kereta api tiba di stasiun tujuan tepat waktu. Aku segera mengirim pesan kepada Laily bahwa aku sudah sampai. Dan aku menunggunya di depan pintu masuk stasiun kota Malang Baru.


Aku menunggu Laily kurang lebih 10-15 menit. Dan dia datang dengan menggunakan motor matic yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Usut punya usut motor yang dia pake biasanya di tukar dengan motor ini yang biasanya ada di Surabaya. Karena alasan kenyamanan sepertinya dan karena motor yang dulu sudah sangat tua. Haha


Kami langsung berangkat ke arah Blitar. Tapi sebelumnya Laily mengajak untuk mampir ke mini market sebentar dan membeli susu, air dan roti. Kami melanjutkan perjalanan dan dalam perjalanan tersebut kami memutuskan untuk mengunjungi waduk sutami atau bendungan karang kates terlebih dahulu baru kemudian candi penataran.


Laily yang tahu jalan bertindak sebagai sopir sementara aku duduk di belakang mengambil beberapa foto di perjalanan. Sebenarnya ini pemandangan yang langka, karena biasanya aku yang duduk di depan sebagai sopir dan Laily sebagai navigator. Yup, aku buruk dalam membaca peta dan cenderung buta arah. Makanya aku lebih suka mempercayakan kegiatan navigasi kepada rekan seperjalan. Hal ini persis dengan yang terjadi di perjalanan Bali-Lombok ketika Lukman aku paksa untuk menjadi navigator. Gwahahaha.


Hampir 45 menit berkendara dan kami sampai di lokasi, untuk masuknya kami harus membayar retribusi Rp 10.000/orang dan biaya parkir Rp 2.000/motor dan biaya masuk motor Rp 1.000,- Aku segera mengeluarkan uang dari dompet dan membayar.











Setelah memarkikan motor diarea parkir kami segera mengelilingi bendungan. Disini selain ada kolam renang, juga ada resto dan cottage untuk pengunjung yang berminat untuk bermalam. Untuk kolam renang, harus membayar tiket seharga Rp 5.000,-/orang. Dan tak sedikit juga orang yang memancing di pinggir bendungan meskipun matahari sedang bersinar panas.


Karena ini bendungan, dan kebetulan juga terdapat PLTA, kami tergoda untuk mendekat. Bukan semata – mata karena tergoda, namun ada salah seorang teman SMA kami yang memposting foto dengan latar belakang PLTA ini. Jadi kami tidak berpikir bahwa area tersebut adalah area yang terlarang untuk umum.


Kami harus berjalan di jalan yang di bangun diatas bendungan untuk berada lebih dekat. Namun petugas keamanan segera memperingatkan kami dan meminta kami untuk keluar dari kawasan tersebut. Dengan sedih kami, berjalan menjauh. Lelah, kami duduk sejenak di atas pagar batu dengan naungan pohon rindang. Menikmati genangan air besar buatan manusia.


Mencoba untuk menebas kekecewaan dalam hati, kami kembali melihat sekitar dan mengambil beberapa gambar sebelum akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju candi penataran.


Kali ini Laily tidak tahu jalan yang harus kami lalui. Jadi aku mengambil alih kemudi dan dia bertindak sebagai navigator. Well, we have a good team work. Jarak yang seharusnya dapat di tempuh sekitar satu jam jadi kelebihan. Haha. Well, mau bagaimana lagi. Ini tantangannya berpergian tanpa tahu jalan.


Karena kelaparan, kami memutuskan untuk mencari warung. Dan menjatuhkan pilihan kami di sebuah warung bakso dan rawon. Kami segera memesan dua posi bakso dan dua porsi nasi. Iya, bener kok ga salah baca. Seharusnya kan lontong ya, tapi karena ibu yang jual tidak menyediakan lontong, jadi aku dan Laily meminta nasi sebagai nasinya. Karena tanpa karbohidrat, kami tidak akan bisa kenyang. Hihi. Laily juga meskipun kecil, tapi makannya banyak.


Kami memasuki wilayah candi penataran dan harus membayar retribusi sebesar Rp 2.000,-. Beberapa meter dari gerbang kami belok kiri menuju komplek candi. Sebelum memasuki komplek candi penataran, kami memarkirkan kendaraan terlebih dahulu yang banyak tersedia di sekitaran komplek candi.


Kebetulan pada saat itu komplek candi Penataran cukup padat pengunjung. Pengunjung diwajibkan untuk melapor, menuliskan nama di buku tamu dan memberikan sumbangan seikhlasnya. Well, i can see exactly how they managed the money. Karena pada saat kami berkunjung disana, ada beberapa tukang yang sedang mempercantik komplek candi. Well manage deh


We have so much fun there. And we lost trace of time, that suddenly I saw the dark cloud coming over. Awan hitam dan tebal yang melingkupi kawasan candi penataran. Aku mengajak Laily untuk kembali ke Malang, but it seems that She had so much fun that I felt slightly ignored.


Pada akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan Laily memintaku untuk mampir ke Masjid untuk melaksanakan kewajiban yang tertunda. Kami berhenti di masjid yang tidak jauh dari kawasan Candi Penataran.


Perjalanan terasa lebih cepat dibanding saat kami berangkat tadi. Mungkin karena kami sudah familiar rute jalan. Ditengah jalan kami di guyur hujan deras amat deras sampai aku mengalami kesulitan melihat jalanan di depanku. Dan juga wajah ku kesakitan karena serangan butiran hujan. And my cloths get wet even when I whore a rain coat.


Kami berada beberapa km sebelum memasuki kawasan malang kota, dan disini banjir. I mean, didn’t it makes no sense? Dan aku tak kuasa menahan mulut untuk tak bersumpah serapah karena ulah pengguna jalan raya yang seenaknya sendiri memacu kendaraan mereka tanpa memikirkan pengguna jalan yang lainnya. I got so upset.


Jam tiga lebih, Laily menyuruhku untuk memacu kendaraan menuju stasiun,not to stop at her dormintory instead. Sampai di stasiun aku segera melipat rain coat hastily. I am so sensitive with my body felt cold and wet. Aku segera membeli tiket dan dapat kereta yang berangkat di jam 5 lebih. Setelah mendapat tiket, Laily segera pamit balik ke kosnya. Bye Laily


Stasiun yang penuh dengan calon penumpang yang menuju Jakarta leave no seat to me. Bahkan lahan untuk lesehan juga sudah sangat terbatas. Akhirnya aku meringkuk dipojokan dengan kedinginan dan perut lapar. Ini hanya mimpi kan ya? Haha


Dan terdengarlah seruan dari pengeras suara bahwa kereta api which I supposed to be in, will be late appropriately 30-60 minutes. Duh, ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah perut lapar dan haus, badan basah dan kedinginan, masih harus menunggu kereta api yang mengalami keterlambatan. Di tambah lagi aku tidak kebagian kursi dan harus berdiri sepanjang perjalanan dari stasiun KOTA MALANG BARU sampai stasiun SIDOARJO.


Aku berdiri ditengah gebong kereta api dengan merasakan pegal – pegal di kaki dan pinggul. This is bad. The worst thing that ever happened during this trip, win the competition over the rain. Feeling crap!

Comments

Popular Posts