MENJELAJAH COBAN COB(A)AN
Hei,
it’s been awhile. I’m so sorry that I haven’t post anything for
two months. Now I’m back with a new story. Expect it....
Seventh
November 2015
Aku
berangkat dari rumah pukul 05.10. Sepertinya aku akan tiba di Malang
lewat dari pukul 07.00
Estimasi
jarak tempuh Surabaya – Malang adalah kurang lebih dua jam. Dan
kami janjian untuk bertemu di kantor Laily di Malang kota pukul
07.00. for sure, I’ll be late
Dengan
gelisah aku memacu motor berharap tidak terjebak kemacetan. Meskipun
begitu satu hal yang membuat aku lega adalah bahwa hari ini hari
sabtu. Kenapa lega? Karena satu, aku tidak harus memutar jauh atau
mencari jalan alternative untuk menghindari acara car free day yang
biasa diadakan tidak hanya di Surabaya, namun juga di Sidoarjo yang
merupakan bagian dari rute perjalananku.
Sesekali
aku melongok jam tanganku. Aku memacu motorku dengan lebih leluasa
dengan kenyataan bahwa aku berkendara di pagi hari jadi jalanan belum
seberapa padat. Sehingga sesekali aku memacunya sampai 80km/jam. (nb:
jangan ditiru ya).
Diluar
dugaanku, aku tiba di depan kantor Laily bahkan sebelum pukul 7, jadi
aku mengirim pesan pada Laily bahwa aku telah sampai. Dan sekali lagi
di luar dugaan, Laily memintaku untuk langsung ke kosnya. Karena
banyak yang batal ikut, jadi meeting point dan jam keberangkatan
berubah.
Aku
sampai di kos Laily. Kemudian kami jalan kaki di sekitar kos untuk
mencari sarapan. Akhirnya kami makan bubur ketan hitam sembari
menunggu kedatangan Rafdi yang masih berada di Lawang.
Pukul
Sembilan Rafdi tiba, kami langsung berangkat menuju tumpang. Kami
berhenti di dekat sebuah kolam pemancingan yang lokasinya tidak jauh
dari rumah rekan kerja Laily, sebut saja Pak Ji. Beliau ramah dan
sangat bersahabat. Kemudian kami lanjut bermain ke rumah teman dari
Pak Ji sebentar, sementara berada disini aku, Rafdi dan Laily memanen
pohon keres yang berada di halaman dan memakan beberapa buah.
Kemudian
Pak Ji mengajak kami ke rumah saudaranya yang lokasi hanya beberapa
km meter dari tujuan pertama kami, Sumber Pitu. Kami berhenti sejenak
dan meletakkan helm kami di rumah ini. Pada akhirnya keponakan Pak
Ji, Tachul akan menjadi penunjuk jalan kami. Karena menurut Pak Ji,
track yang akan kami lewati agak sulit, jadi di putuskan supaya Laily
di bonceng motor Pak Ji, dan aku di bonceng Tachul dengan menggunakan
motorku sementara itu Rafdi sendirian.
Di sebuah persimpangan kami lebih memilih jalan yang 'menantang' dibandingkan yang biasa saja. maka sebagai konsekwensi dari pilihan tersebut aku dan laily harus merelakan kaki dan celana kami basah saat menyebrangi sungai dan juga seluruh badan terselimuti tanah debu tipis. Indeed ini adalah jalan yang menantang. Karena sejatinya ini adalah jalan setapak yang dilewati pejalan kaki, kebanyakan diantaranya adalah petani dan warga sekitar. Dan kami melewati jalan ini bukan dengan jalan kaki melainkan naik motor. Mungkin untuk warga sekitar, mereka sudah biasa menggunakan motor untuk mengangkut hasil panen di jalanan yang ekreem seperti ini. Tapi bagi ku ini seperti naik roller coaster tanpa memakai sabuk pengaman. Jadi beberapa kali aku sempat berusaha untuk menutup mata ku ketika jurang di sebelah kiri menyapa dengan riang.
Mungkin terdengar berlebihan, tapi ini yang aku alami dan aku rasakan pada saat tersebut. meskipun pemandangan di jurang menggoda, but no! I wont look at it for too long. Bahwa yang membonceng aku adalah juga merupakan warga sini, sedikit membuatku tenang. Karena meskipun dia tidak mengurangi kecepatan ketika berkendara di jalanan sempit ini, paling tidak dia sudah hafal di luar kepala jalur dan kontur disini.
Setelah menyebrangi tiga sungai, berkendara lebih dari setengah jam di tanah debu yang tidak padat, kami sampai di pintu masuk Sumber Pitu yang merupakan hasil dari swadaya masyarakat. Yup, perhuni belum masuk dan belum ikut campur dalam pengelolaannya. Jadi jangan heran saat kamu masuk, tidak ada yang meminta uang retribusi. Disini kami memarkirkan kendaraan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Tidak lama berjalan kaki kami sampai di air terjun ringin gantung. upps did I forgot to mention that this two spot letaknya berdampingan. Hanya terpisah satu tanjakan yang sudah di beri tangga bambu oleh warga sekitar. Kondisi kedua lokasi wisata ini masih asri, meskipun ada sedikit sampah yang berserakan. But well, pedagang yang berjualan di sini cukup memiliki kesadaran untuk menyediakan tempat sampah ala kadarnya dari kardus. Jadi mari tepuk tangan, semoga kesadaran tersebut semakin besar.
Aku mengganti bajuku di bilik yang disediakan oleh pedagang warung yang berada tepat di lokasi sumber pitu. Karena ini mata air, jadi air yang ada di sini sangat jernih. Bahkan PDAM baru saja selesai membangun sebuah dam. Kami masuk ke dalam air yang dinginnya bak air dengan es batu. Semua tak terkecuali, menggigil kedinginan.
Tak lama kemudian hujan rintik - rintik sebentar, jadi kami keluar dari air dan mengisi perut dengan mie instant dari warung. Lalu kami memutuskan untuk balik dan menuju ke destinasi air terjun yang lain. Sebenarnya kami sama sekali tidak merencanakan hal ini, spontan saja terjadi ketika Pak Ji menjadi penunjuk arah dan pemimpin perjalanan.
Kata Pak Ji, tak jauh dari sini ada air terjun coban kembar. Keputusan sudah di ambil kami berjalan menuju pintu gerbang tadi. Bapak - bapak yang sedang berteduh membuat api unggun yang cukup besar dengan batang bambu. Kami semua kecuali Pak Ji yang tubuhnya kering karena tidak masuk kedalam air, berhenti sejenak dan menghangatkan tubuh. Si Tachul menggigil hebat karena tak membawa jaket. And I though he is still okey.
Karena motor Rafdi bermasalah jadi aku dan Tachul tinggal untuk memperbaiki ala kadarnya. Iya, kan ga bawa peralatannya. haha. Setelah bertemu dengan jalan raya yang sudah lama aku rindu, kami berkendara ke arah atas, semakin mendekat ke jalur menuju TNBTS. Kemudian Pak Ji berhenti tepat di depan jalan turunan curam yang tidak seberapa lebar. Jalanan disini batu, jadi kalau ada hujan yang agak deras yang membasahi batuan, maka akan sangat berbahaya untuk di lewati motor.
Hanya setelah beberapa ratus meter kemudian, jalanan yang tadinya jalan batu berubah menjadi jalanan tanah pasir seperti di track jalan sebelumnya. Dan yang semakin mengerikan adalah selain jalanan yang sempit, tanjakan dan turunan yang tak terduga, juga terdapat batu besar di samping kanan kiri jalan. Kaki ku bahkan sempat menghempas batu, sakit...
Jalan kali ini berdampingan dengan jurang yang tak seberapa dalam. But it gets my nerve.
Kami sampai, dan tidak orang sama sekali. Aliran airnya kecil mungkin karena belum hujan. Airnya dingin tapi tak sedingin di sumber pitu. Disini tidak ada orang yang berjualan atau fasilitas yang biasa ditemui di tempat wisata. Tidak ada.
Aku mencelupkan kaki ku ke dalam air karena pasir yang menempel membuatku merasa uncomfortable. Dan memang banyak pohon bambu di sekitar, jadi aku kira ada satu daunnya yang tersangkut di kakiku. Tanpa menunduk untuk melihatnya, aku naik ke sebuah gundukan untuk melihat air terjun. Namun 'daun' tersebut masih menempel di kaki ku, dan jreeeeeng...
Yang aku lihat bukan daun. Tetapi makhluk sejenis ular atau namun ukurannya sangat kecil dengan panjang hampir 20cm. Aku ga tahu kenapa aku tidak menjerit histeris dan meloncat tak karuan, instead dengan tenang aku menyingkirkan makluk itu dengan tangan kananku. Dan kata Tachul itu namanya ular kawat. Dan Tachul menunjukkan padaku selongsong kulit bekas ular yang ukurannya lumayan besar. Kemudian datanglah tiga pasang kekasih mengunjungi air terjun tersebut. Jadi kami putuskan untuk kembali.
Pak Ji tanpa di duga mengajak kami memasuki kawasan TNBTS. Wow, tentu saja pemandangan di kanan kiri tidak boleh di lewatkan begitu saja bukan? Jadi aku benar - benar memanjakan mataku dengan warna hijau dan biru disini. Saat kami tiba di turunan tempat point pertama untuk menuju coban trisula, hujan turun dengan deras. Jadi kami terpaksa berteduh di pos penjagaan dan memarkirkan motor kami disana. Hujan dengan intensitas sedang turun membasahi dataran tinggi dan menyebarkan hawa dinginnya.
Setelah hujan berhenti kami bergegas menuruni tangga yang bentuknya hampir hilang ini. Kemudian jalanan berubah menjadi jalanan tanah basah. Aku dan Leli berada di paling belakang karena selain lutut sakit, kami juga pemerhati kesehatan yang berjalan perlahan. haha. Kami tertinggal jauh karena medan yang sulit. curam sekali. I just hope that we will be fine.
Kami sampai, tapi kami harus lompat dan tracking lagi untuk menuju coban trisulanya. Dinamanakan air terjun coban trisula karena bentuknya seperti trisula raja Neptun yang terbalik... haha beneran loh...
Aku sempat galau disini, wheter I should continue or just stop. Turun ke Coban ini memang susah tapi naiknya jauuuuuuuuuh lebih susah. Aku bahkan hampir menangis karena tak sanggup.
capeknya berasa lari maraton 5km hahahaha...
itu cobaan cobaan di coban.. hayoloh
see you next time guys
Tidak lama berjalan kaki kami sampai di air terjun ringin gantung. upps did I forgot to mention that this two spot letaknya berdampingan. Hanya terpisah satu tanjakan yang sudah di beri tangga bambu oleh warga sekitar. Kondisi kedua lokasi wisata ini masih asri, meskipun ada sedikit sampah yang berserakan. But well, pedagang yang berjualan di sini cukup memiliki kesadaran untuk menyediakan tempat sampah ala kadarnya dari kardus. Jadi mari tepuk tangan, semoga kesadaran tersebut semakin besar.
Aku mengganti bajuku di bilik yang disediakan oleh pedagang warung yang berada tepat di lokasi sumber pitu. Karena ini mata air, jadi air yang ada di sini sangat jernih. Bahkan PDAM baru saja selesai membangun sebuah dam. Kami masuk ke dalam air yang dinginnya bak air dengan es batu. Semua tak terkecuali, menggigil kedinginan.
Tak lama kemudian hujan rintik - rintik sebentar, jadi kami keluar dari air dan mengisi perut dengan mie instant dari warung. Lalu kami memutuskan untuk balik dan menuju ke destinasi air terjun yang lain. Sebenarnya kami sama sekali tidak merencanakan hal ini, spontan saja terjadi ketika Pak Ji menjadi penunjuk arah dan pemimpin perjalanan.
Kata Pak Ji, tak jauh dari sini ada air terjun coban kembar. Keputusan sudah di ambil kami berjalan menuju pintu gerbang tadi. Bapak - bapak yang sedang berteduh membuat api unggun yang cukup besar dengan batang bambu. Kami semua kecuali Pak Ji yang tubuhnya kering karena tidak masuk kedalam air, berhenti sejenak dan menghangatkan tubuh. Si Tachul menggigil hebat karena tak membawa jaket. And I though he is still okey.
Karena motor Rafdi bermasalah jadi aku dan Tachul tinggal untuk memperbaiki ala kadarnya. Iya, kan ga bawa peralatannya. haha. Setelah bertemu dengan jalan raya yang sudah lama aku rindu, kami berkendara ke arah atas, semakin mendekat ke jalur menuju TNBTS. Kemudian Pak Ji berhenti tepat di depan jalan turunan curam yang tidak seberapa lebar. Jalanan disini batu, jadi kalau ada hujan yang agak deras yang membasahi batuan, maka akan sangat berbahaya untuk di lewati motor.
Hanya setelah beberapa ratus meter kemudian, jalanan yang tadinya jalan batu berubah menjadi jalanan tanah pasir seperti di track jalan sebelumnya. Dan yang semakin mengerikan adalah selain jalanan yang sempit, tanjakan dan turunan yang tak terduga, juga terdapat batu besar di samping kanan kiri jalan. Kaki ku bahkan sempat menghempas batu, sakit...
Jalan kali ini berdampingan dengan jurang yang tak seberapa dalam. But it gets my nerve.
Kami sampai, dan tidak orang sama sekali. Aliran airnya kecil mungkin karena belum hujan. Airnya dingin tapi tak sedingin di sumber pitu. Disini tidak ada orang yang berjualan atau fasilitas yang biasa ditemui di tempat wisata. Tidak ada.
Aku mencelupkan kaki ku ke dalam air karena pasir yang menempel membuatku merasa uncomfortable. Dan memang banyak pohon bambu di sekitar, jadi aku kira ada satu daunnya yang tersangkut di kakiku. Tanpa menunduk untuk melihatnya, aku naik ke sebuah gundukan untuk melihat air terjun. Namun 'daun' tersebut masih menempel di kaki ku, dan jreeeeeng...
Yang aku lihat bukan daun. Tetapi makhluk sejenis ular atau namun ukurannya sangat kecil dengan panjang hampir 20cm. Aku ga tahu kenapa aku tidak menjerit histeris dan meloncat tak karuan, instead dengan tenang aku menyingkirkan makluk itu dengan tangan kananku. Dan kata Tachul itu namanya ular kawat. Dan Tachul menunjukkan padaku selongsong kulit bekas ular yang ukurannya lumayan besar. Kemudian datanglah tiga pasang kekasih mengunjungi air terjun tersebut. Jadi kami putuskan untuk kembali.
Pak Ji tanpa di duga mengajak kami memasuki kawasan TNBTS. Wow, tentu saja pemandangan di kanan kiri tidak boleh di lewatkan begitu saja bukan? Jadi aku benar - benar memanjakan mataku dengan warna hijau dan biru disini. Saat kami tiba di turunan tempat point pertama untuk menuju coban trisula, hujan turun dengan deras. Jadi kami terpaksa berteduh di pos penjagaan dan memarkirkan motor kami disana. Hujan dengan intensitas sedang turun membasahi dataran tinggi dan menyebarkan hawa dinginnya.
Setelah hujan berhenti kami bergegas menuruni tangga yang bentuknya hampir hilang ini. Kemudian jalanan berubah menjadi jalanan tanah basah. Aku dan Leli berada di paling belakang karena selain lutut sakit, kami juga pemerhati kesehatan yang berjalan perlahan. haha. Kami tertinggal jauh karena medan yang sulit. curam sekali. I just hope that we will be fine.
Kami sampai, tapi kami harus lompat dan tracking lagi untuk menuju coban trisulanya. Dinamanakan air terjun coban trisula karena bentuknya seperti trisula raja Neptun yang terbalik... haha beneran loh...
Aku sempat galau disini, wheter I should continue or just stop. Turun ke Coban ini memang susah tapi naiknya jauuuuuuuuuh lebih susah. Aku bahkan hampir menangis karena tak sanggup.
capeknya berasa lari maraton 5km hahahaha...
itu cobaan cobaan di coban.. hayoloh
see you next time guys





Comments
Post a Comment