Air Asia, Bawa Saya Terbang!
“To travel is to awaken” – quote from Lily Tsay
Saat di SMA, setiap murid diwajibkan untuk mengikuti minimal satu
kegiatan ekstra kurikuler dan maksimal tiga kegiatan.
Seorang sahabat menyarankan untuk bergabung di ektra kurikuler
Pecinta Alam. dari sinilah awal dari kegemaran baru,yakni travelling.
Kegiatan
pecinta alam membuat saya terbiasa untuk melangkahkan
kaki keluar dari zona nyaman. Mendaki gunung dan menyusuri pantai memupuk
keberanian berjalan lebih jauh lagi.
Awalnya hanya destinasi wisata yang dekat dengan rumah.
Dan
saya mulai berani
untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh dengan beberapa teman seperjalanan.Setelah lulus dari SMA, perjalanan yang awalnya menggunakan transportasi kereta
api, bus atau mobil teman, sekarang mulai beralih ke motor.
Semakin sulit untuk travelling
bersama sahabat, baik untuk destinasi jarak pendek maupun jarak jauh. Hal
tersebut karena kami memiliki kesibukan yang berbeda beberapa diantara kami melanjutkan
pendidikan di perguruan negeri yang berbeda, dan sisanya lebih dahulu terjun ke
dunia kerja. Itu menimbulkan pengaruh yang besar pada intensitas travelling kami.
Akhirnya saya mulai memberanikan diri mempraktekkan solo travelling. Solo Travelling adalah
kegiatan bepergian atau berpelesir yang dilakukan seorang diri, independen tanpa bantuan pihak lain. Karena keterbatasan
waktu, frekuensi one-day-trip lebih
banyak dibandingkan dengan trip
yang durasinya lebih dari satu hari. Keterbatasan waktu timbul
karena kewajiban sebagai anak terhadap orangtua yang tidak bisa ditinggalkan.
Kendala waktu juga membatasi penggunaan kendaraan. Dengan trip
yang berdurasi sehari, maka kendaraan pribadi merupakan cara yang paling
efisien. Dengan mengendarai motor, dimulailah perjalanan perdana solo travelling.
Pada usia 22 tahun, saya sudah pernah menggunakan hampir
semua macam jenis kendaraan. Mulai dari kapal, motor, bus, dan kereta api.
Hanya satu. Kurang satu macam kendaraan,
pesawat terbang. Sebagian besar rekan di kampus paling tidak pernah menggunakan
pesawat terbang sebagai tunggangannya, bahkan beberapa diantaranya telah
menjelajah lebih jauh ke belahan dunia yang lain.
Disaat mobilitas manusia menjadi sangat cepat dengan
adanya teknologi, masih ada sebagian orang yang terjebak dalam mobilitas
lambatnya. Salah satunya adalah saya. Bukan maksud berkecil hati atas fakta tersebut, tapi pada saat itu motor
adalah kendaraan utama baik dalam kebutuhan sehari – hari maupun travelling.
Namun, saya tak mungkin lepas dari jeratan teknologi. Ada
keinginan yang tersimpan jauh di dasar hati untuk merasakan setidaknya satu
kali sensasi travelling menggunakan
pesawat terbang komersial.
Sekitar setahun yang lalu, ada seorang teman kuliah yang
mengutarakan keinginannya untuk liburan ala backpacker
ke Bali di akhir tahun 2013. Saya mempengaruhi teman tersebut untuk sekaligus
mengunjungi pulau Lombok. Karena saya sudah pernah mengunjungi pulau Bali, meskipun itu hanya
sekali tapi bagi saya sudah cukup. Bila ada kesempatan untuk menjelajahi diluar provinsi Jawa Timur, saya ingin mengeksplore pulau
Lombok.
Jadi, itulah motivasi saya untuk mempengaruhi teman
tersebut. Namun yang bersangkutan tetap kukuh pada pendapatnya. Pada akhirnya
kami saling berkompromi. Kami memutuskan untuk mengunjungi kedua pulau
tersebut. Namun kami belum memutuskan dan merencanakan dengan rinci liburan
tersebut.
Datang sebuah kesempatan kepada kami, Air Asia yang
dikenal sebagai budget flight
mengadakan promo harga murah pada semua rute penerbangannya baik domestic maupun international. Saya dan rekan saya yang sama – sama belum pernah
menggunakan pesawat terbang, merasa terpanggil dengan tawaran promo tersebut.
Seketika itu juga kami memutuskan untuk menggunakan jasa
dari perusahaan penerbangan tersebut. Dengan bantuan seorang teman, kami
memesan tiket Surabaya – Denpasar. Teman tersebut memberi saran, agar kami
memesan tiket pulang pergi. Jadi kami berakhir dengan tiket Surabaya – Denpasar
pulang pergi seharga 400ribuan.
Karena ini adalah kali pertama bagi saya dan Lukman
bersentuhan dengan penerbangan, tak heran kami merasa nervous. Anxious. Dan hal itu wajar. Untuk mengurangi rasa gugup
tak beralasan tersebut, saya melakukan pencarian informasi mengenai penerbangan
dan Air Asia sebagai perusahaan yang akan saya gunakan jasanya.
Perusahaan penerbangan komersial ini meraih penghargaan
sebagai low-budget airlines nomer
satu selama lima tahun berturut – turut. Dan baru – baru ini, Air Asia kembali
memenangkan penghargaan tersebut. Menciptakan prestasi terbaru dengan
memenangkan penghargaan tersebut enam kali
selama enam tahun berturut – turut.
Dengan reputasinya sebagai penerbangan murah, membuat
perusahaan ini memiliki tempat khusus di hati para backpacker. Dilihat dari track-recordnya,
perusahaan ini memiliki tingkat safety
udara yang baik, selain itu banyak traveller
maupun pengguna jasa sebelumnya yang memberikan ulasan tentang kepuasan
yang mereka peroleh dari Air Asia.
Dari beberapa travel blog yang menjadi acuan saya,
semuanya menjadikan Air Asia sebagai partner penerbangan mereka. Dan mereka
juga menuliskan pengalaman menarik yang mereka dapatkan baik dari penawaran
harga maupun pengalaman terbang bersama dengan Air Asia.Setelah membaca review dari traveller senior, saya menjadi lebih tenang dan percaya diri untuk
pengalaman pertama menggunakan moda transportasi pesawat terbang.
Pada hari keberangkatan, rasa takut dan nervous sudah jauh menghilang dari pikiran
kami. Dengan pelayanan check-in yang mudah
dan ramah, kami mulai bergegas menuju terminal dan duduk manis menunggu boarding.
Flight kami berjalan dengan mulus, bahkan sangat mulus. Flight Attendant memberikan penjelasan
mengenai prosedur keamanan dan apabila terjadi kecelakaan pesawat dengan jelas.
Tak lupa juga dengan pintu darurat yang ada di pesawat.
Travelling pertama saya dan Lukman selama di Bali-Lombok
menjadi perjalanan pembuka bagi kami untuk menggunakan pesawat terbang. Setelah
trip tersebut, kami mulai menggemari moda transportasi ini karena sangat
menghemat waktu. Pengalaman tersebut sangat berkesan dan memberikan pengalaman
positif bagi kami. Maka pada bulan Maret 2014, saya kembali membeli tiket Air Asia dengan tujuan Surabaya –
Makassar.
Thanks to
Air Asia yang mempermudah perencaan perjalanan travelling saya dengan jadwal yang tepat waktu. Untuk cuti tahun
depan, saya dan teman – teman sedang mempertimbangkan destinasi yang cocok. Pilihan
destinasi yang kami sedang bicarakan antara lain, Thailand, Singapore atau Nepal.
Kami sepakat untuk menggunakan jasa Air Asia.
Dengan
ini, banyak terjadi perubahan dalam hidup saya, terutama dalam hal travelling. Air Asia memberikan saya keberanian untuk menjelajahi
lebih jauh dari yang biasanya saya lakukan, memberikan saya kesempatan untuk
membuktikan bahwa saya bisa. Terima kasih Air Asia.


Comments
Post a Comment