TRAVEL CHOICE: Transportasi umum atau Kendaraan Pribadi?
Aku melihat pertigaan di depan. Dengan
kedua tangan memegang erat kemudi, aku memperlambat laju motor, demi mendengar
intruksi selanjutnya dari Lukman. Feeling
uneasy, I start rambling. ‘Man, ke arah mana ini? Cepetan!’ aku juga
melihat sekililling, takut ada petunjuk jalan yang terlewat dari pengawasan
kami. ‘Bentar, masih loading nih!
Sinyalnya kurang seterong sis’. Demi apa, aku minggir dan berhenti di tepi
jalan. Antara mau tanya ke orang sekitar sama nunggu sinyal kembali seterong. ‘Belok
kiri sini!’ ujar Lukman. Aku menyalakan kembali mesin motor dan melaju ke arah
kiri.
Pengalaman diatas terjadi berulang –
ulang selama kami menjalanakan trip Lombok – Bali beberapa tahun lalu. Kami
berjuang dan beberapa kali tersesat saat menuju lokasi wisata yang akan kami
kunjungi. Dan peristiwa diatas kebanyakan terjadi ketika liburan dengan
menggunakan kendaraan pribadi di tempat yang belum pernah di kunjungi
sebelumnya.
Meskipun it is a bit hustle untuk menggunakan transportasi umum, namun
kemungkinan untuk tersesat jauh lebih sedikit di bandingkan ketika kita
berlibur dengan menggunakan kendaraan pribadi. Misalnya, pas naik kendaraan
umum kita bisa tanya ke bapak supir petunjuk arah dan lainnya, dan jika
beruntung diantarkan sampai ke tujuan.
Kalau di tanya, lebih suka menggunakan
transportasi umum atau pribadi?
Lebih praktis mana menggunakan
transportasi umum atau pribadi?
Lebih aman mana menggunakan transportasi
umum atau pribadi?
Jawabannya:
RELATIF
Maksud dari relative ini adalah karena aku orang yang lumayan fleksibel, jadi
baik kendaraan umum maupun kendaraan pribadi, I am okay. Apa aku tipe orang yang pake kendaraan umum terus?
Enggak. Karena memang kebanyakan tempat wisata yang ada di Indonesia not well managed, dan kendaraan umum
yang menuju kesana juga jarang bahkan ga ada.
Jadi bagaimana aku memisahkan penggunaan
kendaraan pribadi dan kendaraan umum?
| Angkot di Pacitan (dokumentasi pribadi) |
Let me explain it :))
·
Lihat
jarak yang harus di tempuh. Kota asalku Surabaya, jadi ketika akan bepergian
seperti ke Malang, Tuban, Gresik dan sekitarnya, yang bisa ditempuh 1 – 4 jam,
lebih suka pake kendaraan pribadi. Tapi ini bukan aturan baku, cause every rule has it exception.
·
Ketersediaan
kendaraan umum menuju tempat tujuan. Misalkan, aku ingin ke pantai kuta dari
denpasar, kalo ada dan tersedia angkutan umum, maka kendaraan pribadi gak perlu
keluar garasi.
·
Itinerary.
Jadwal seharian bukan hanya satu tempat wisata yang akan di tuju, ada pantai,
toko souvenir dan wisata kuliner. Tidak
semua tempat tujuan memiliki kendaraan umum yang tersedia, dan ada kemungkinan
beberapa alternative kendaraan umum memiliki jadwal yang tidak fleksibel. Di
saat seperti ini kendaraan pribadi yang jadi andalan.
| Terminal Angkot di Denpasar (dokumentasi pribadi) |
·
Kondisi
tubuh. You know when you’re tavelling
kondisi tubuh bisa drop sewaktu – waktu. Dan ketika ini terjadi, aku lebih suka
memanfaatkan kendaraan umum. Contohnya ketika aku ke Malang, karena itinery
yang padat aku sudah memprediksi tubuhku yang akan kelelahan. So instead driving my motorcycle, aku
lebih memilih naik kereta api.
·
Dana!
Yang paling penting nih. Kadang ketika berlibur ke luar pulau, dan gak mungkin
membawa kendaraan pribadi keluar dari garasi. Seperti waktu di Lombok, jadi aku
dan Lukman harus sewa motor. dengan biaya sewa 50ribu/hari (tidak termasuk
bensin). Itungannya, harga sewa harus lebih murah di banding ketika menggunakan
kendaraan umum.
·
Keamanan
(yang ini jarang banget bermasalah). Pada saat kami liburan ke Bali, di
putuskan untuk menghabiskan empat hari pertama di pulau Lombok. Sedangkan kami
sudah terlanjur booking tiket Surabaya – Denpasar. Jadi di putuskan kami akan
melewati jalur laut, dibandingkan dengan jalur udara. Sesampainya di bandara,
dengan polosnya kami menggunakan kendaraan umum langsung menuju pelabuhan (seharusnya
kami menyewa motor), awalnya gak ada masalah. But then the problem occurs when we want to go back. Karena di
pelabuhan Lembar petugas penjual tiket retribusi gak kelihatan batang
hidungnya, karena saking banyaknya calo tiket dan preman yang bertugas disana,
sama hal nya dengan pelabuhan padang bai. Jadi kalau temenku tanya dan akan
merencanakan liburan ke Lombok, aku advised mereka supaya pesan direct flight Surabaya – Mataram. Karena
faktor keamanan yang belum memadai.
| Kapal Ferry Padang Bai - Lembar (dokumentasi pribadi) |
·
Friend or acquaintance. Punya teman atau kenalan di tempat
yang akan dituju, is such a bliss for
traveller. Karena sering kali (menurut pengalamanku) kita tak perlu
mengkhawatirkan masalah kendaraan. Seperti waktu main ke Jember, aku punya
teman yang rumahnya disana. Aku di ajak keliling tanpa harus takut tersesat.
Hihi
Nah, poin – poin diatas yang jadi
acuanku ketika merencanakan liburan atau trip.
By the way, tidak ada salahnya surfing di internet penyewaan kendaraan jika
kalian membutuhkan. Lebih bagus lagi kalo kalian sudah prepare sebelum berangkat.
Gimana? Mau liburan? Atau masih
merencanakan?
Jangan lupa praktekin poin – poin diatas
ya, kali aja membantu dalam merencanakan liburan kali menjadi lebih sempurna.
Salam moment!
Comments
Post a Comment