Snorkelling Manner
More
than a week ago, my brother got a short trip to Gili Labak, Madura.
It’s a new spot for snorkelling. Alam bawah airnya cukup bagus dan
memang belum banyak terekspos. Yah, well meskipun tidak dapat di
sejajarkan dengan spot raja ampat dkk. Tapi gili labak adalah spot
yang cukup bagus dan dekat bagi penggemar dunia bawah air yang berada
di Jawa Timur.
He
told me that he was snorkelling throughout the day. And he said
that, “aku baru tahu mbak, ternyata batu karang itu rapuh, dan
tidak sekeras yang aku kira.”
Aku
mengangguk dan segera menanggapi ucapannya dengan galak, “Jangan
bilang kalau kami nginjek dan berdiri diatas karang!”
Dengan
tangkas adikku membalas, “nah, i just touch it with my hand. I’m
not an ignorant person who stepped on coral.”
Aku
lega dengan tindakan cautious adikku yang memang patut dicontoh.
Tindakan kecil memang, tapi apabila tidak dilakukan maka kelestarian
alam bawah air yang indah akan terancam punah.
I
always said to him, “Jangan buang sampah dilaut. Hanya orang kurang
peduli dan kurang pendidikan yang berpeliku seperti itu.”
Mungkin
tidak banyak yang tahu bahwa memang coral dan karang bawah air sangat
rentan dan mudah sekali rusak. Bahwa kerusakan yang ditimbulkan
membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk kembali seperti semula.
Tahunan bahkan sampai puluhan tahun adalah waktu yang dibutuhkan
untuk mengembalikan kondisinya seperti semula.
Dan
mungkin, karena ketidaktahuan tersebutlah yang membuat kerusakannya
semakin tidak terkontrol.
Aku
adalah seseorang yang tidak tahu mengenai hal ini, sampai sekitar 2-3
tahun yang lalu aku melakukan perjalanan jauh ke kepulauan karimun
jawa selama 5-6 hari. Disini untuk pertama kalinya aku melakukan
perjalanan untuk melihat dunia bawah air.
Dengan
menggunakan goggles dan snorkel, beserta jaket pelambung untuk
menjaga tubuhku mengambang karena aku tidak bisa berenang, aku
memulai pengalaman ku yang pertama untuk snorkelling. Karena spot
pertama yang di datangi memiliki kedalaman paling tidak 4-5 meter, I
can’t see the coral up close. Di spot berikutnya kedalamannya agak
dangkal, disini lah pemilik kapal mewanti – wanti rombongan kami
untuk tidak menginjak karang.
Dan
begitulah, bagaimana pada akhirnya aku tahu aturan dasar tersebut.
Dalam perjalanan kembali ke pulau utama, banyak sampah mengambang
yang aku lihat.
I’m
so annoyed by how ignorant people can be. I’m so suffocated and
angry. Pemilik kapal mengangkut beberapa botol plastic yang berada di
dekat perahu yang bisa diraih.
Meskipun
hanya memiliki kesempatan sekali melihat alam bawah laut yang indah,
itu sudah cukup untuk membuatku jatuh hati. Sungguh tidak rela kalau
keindahan laut itu tidak dapat lagi dinikmati karena perbuatan bodoh
manusia yang merusak karang dan lainnya.
Buat
pecinta travelling dan petualangan diluar sana, tentu setuju bahwa
semua keindahan baik di dalam laut maupun di daratan harus tetap
dijaga. Agar kita dapat menikmatinya meskipun disaat aku berumur 40
tahun, dan juga agar generasi beriku
Aturan
yang harus di patuhi:
- Jangan menginjak karang dll
- Jangan membuang sampah di laut apalagi sampah plastic
Dan lagi, patuhi intruksi dari guide. Aturan
yang simple, tapi harus dilaksanakan demi kelangsungan kehidupan
laut. Save our sea!!
Comments
Post a Comment