Coban Jahe
What comes when you think about Malang?
Perkebunan teh?
Pantai?
atau Bukit?
Semua benar, tapi izinkan saya menambahkan satu lagi. Air terjun.
Selain di penuhi dengan pantai - pantai indah nan eksotis, kota Malang juga memiliki puluhan air terjun cantik yang kebanyakan belum begitu ramai di kunjung. Well to be honest, sebelum perjalanan bersama Laily kali ini, aku hanya sempat mengunjungi satu air terjun di kawasan Malang. Yakni air terjun Kake Bodo yang tepatnya berada di Pandaan.
Setelah menghabiskan waktu di air terjun coban pelangi sebelumnya, asumsi buruk yang aku miliki mengenai air terjun sedikit berubah. Iya, memang aku tidak seberapa akrab dengan ciptaan Tuhan yang satu ini. Asumsi busuk yang ada di otakku mengenai air terjun adalah bahwa need more than strong untuk mencapai sebuah air terjun yang dimana jalanannya tidak bagus dan selalu menanjak. Jalanan semacam inilah yang memberiku rasa insecure tiap kali aku berencana untuk mengunjungi sebuah air terjun.
Tapi karena jalanan coban pelangi yang panjang namun menurun, membuatku membuka pikiran bahwa masih ada beberapa air terjun di dunia ini yang lokasi nya mudah di jangkau dan di capai. Jadi ajakan Laily untuk mengunjungi satu air terjun lagi tidak aku tolak sama sekali. Bahkan aku sambut dengan perasaan penuh ingin tahu dan antusias.
Akhir kata singkat cerita, kami segera menuju destinasi kami ke dua yang merupakan anjuran dari junior Laily di kampusnya. Kami meluncur menuju air terjun Coban Jahe. Dalam perjalanannya, ternyata kami melewati sebuah candi. Candi apa?
Candi Jago namanya. Areal Candi tidak begitu luas. Jadi kami hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk mengelilingi seluruhnya.
Dari lokasi Candi Jago, jarak ke Coban jahe tidak seberapa jauh sebenarnya.
Untuk mencapai lokasi air terjun coban jahe, kami melewati sebuah pemukiman warga. Walaupun ini pemukiman, namun jalan desa nya cukup jelek. Kendaraan yang kami gunakan hanya sebuah motor bebek yang cukup tua, dan dengan kondisi jalan yang buruk seperti ini tentu membuatku kasihan dengan kuda besi ini.
Setelah keluar dari pemukiman warga, kami memasuki jalanan yang kanan kirinya hanya ada sawah dan kebun cabe. Jalanan yang kami lewati semakin jelek kondisinya, dan aku juga beberapa kali turun dari motor karena medan jalanan yang berupa tanah dan batu membuat motor Laily kesulitan melaju. Lambat laun, Laily yang merasa lelah, meminta ku untuk berganti memegang kendali.
Dan aku akui bahwa benar aku mengalami kesulitan untuk melajukan jalanan makadam ini. Kami berhenti disebuah makam. Awal nya aku mengira bahwa kami sudah sampai di air terjun coban jahe. Namun celetukan seorang penjual minuman mematahkan persepsi tersebut. Kami masih harus menempuh jalanan makadam lagi lebih dari 1 km.
Aku dan Laily berusaha untuk mandiri dan mengatasi kesulitan di depan kami. Namun apa daya, karena kurang paham dengan medannya, aku kesulitan dan hampir jatuh.
Untungnya ada salah seorang warga yang menawarkan bantuan dan juga memboncengku sampai ke lokasi tujuan. Aku sungguh merasa berterima kasih atas pertolongan tersebut.
Kebetulan di sini ada acara. Sama seperti acara Malang tempo dulu namun dengan skala acara yang jauh lebih kecil. Lumayan ramai juga pengunjung yang datang, namun jumlahnya masih kalah dengan pengunjung yang datang ke air terjun coban pelangi.
Aku melihat beberapa klub motor yang pawai kemari. Bahkan terdapat satu klub motor yang berasal dari pulau Madura! Ternyata coban jahe juga merupakan salah satu destinasi yang cukup di kenal di kalangan pecinta trip.
Kami berjalan menurun ke arah air terjun, sebentar saja karena memang jaraknya tidak seberapa jauh dari tempat kami memarkirkan kendaraan. Hanya selang lima menit, kami sudah sampai.
Air terjun ini lebih tinggi 15 meter dibandingkan dengan air terjun coban pelangi yang hanya 30 meter tingginya. Pada saat kami kesini, arus air yang jauh tidak seberapa besar. Jadi pengunjung dapat menimati air tejun ini lebih dekat dibanding ketika arus nya deras.
Nah, buat yang berminat untuk berkunjung ke Coban Jahe atau Coban Bengawan ini lebih di sarankan untuk menggunakan kendaraan yang dalam kondisi baik, mengingat jalanannya yang masih berupa tanah dan batu. Di musim hujan jalanan ini akan menjadi lebih berbahaya lagi karena licin.
Ok, sekian dari saya. Jumpa lagi di trip berikutnya!



Comments
Post a Comment