Kaum Peminta Beringas

Jadi begini, sekitar sebulan yang lalu i got dragged by my Mom. Beliau memaksi aku untuk mengikuti dan menemani beliau dalam sebuah acara wisata religi. Wisata religi ini bukan kali pertama bagi aku maupun ibuku. Ini adalah kesempatan kedua bagiku, sedangkan untuk ibu, ini adalah untuk yang kesekian kalinya. Dan sebagai informasi kami selalu menggunakan jasa travel yang sama.

Jauh - jauh hari sebelum keberangkatan, aku sudah menolak untuk ikut karena aku mengalami kekecewaan yang besar pada perjalanan wisata religi yang sebelumnya. Karena memang pengelolaannya yang buruk, banyak objek yang terlewatkan karena panitia buruk dalam memanage waktu. Namun ibuku menolak untuk mendengarkan penolakan yang aku ajukan. Beliau malah menunjukkan selebaran perjalanan tersebut padaku.

Pada akhirnya aku ikut berangkat dengan ibu, karena ibu sudah membayar LUNAS untuk dua packet trip tersebut. Aku yang merasa frustasi dengan kelakuan ibu, menahan diri. H- sekian jam aku baru mulai packing karena perjalanan wisata religi ini akan menghabiskan waktu 2D1N. Trip kali ini, kami mengunjungi beberapa makam kyai dan tokoh islam yang sudah berjasa dan beberapa objek wisata di tanah madura.

Seperti biasa perjalanan wisata religi dimulai dari mengunjungi Makam yang letaknya paling dekat dan semakin menjauh. Dan selayaknya sebuah destinasi Wisata Religi, akan banyak di jumpai pengemis baik yang masih muda maupun masih anak - anak, baik yang anggota tubuhnya sempurna maupun yang tidak. Nah, ibu punya kebiasaan menyiapkan uang recehan untuk dibagikan pada kaum peminta tersebut. Sedangakan aku hanya akan berjalan lurus dan menggelengkan kepala pada tadahan tangan  mereka. karena memang aku selalu tidak membawa uang kalau bepergian dengan ibu.

Sampailah kami di sebuah makam yang disebuat air mata. Disebut air mata karena konon dahulu pernah hidup seorang ratu yang merupakan istri yang sangat patuh dan menyayangi suaminya, sang raja. Ratu ini sangat mudah mencucurkan air matanya karena hal sepele seperti mengkhatirkan suaminya yang sedang berada di luar kerajaan atau ketika beliau membuat kesalahan yang merugikan suaminya. Singkat cerita ratu ini merupakan seorang istri yang sangat berbakti pada suaminya.

Dari kawasan parkiran menuju kawasan makam kami harus berjalan melewati tangga landai. Disepanjang jalanan ini banyak wanita yang berdiri menunggu. Awalnya aku mengira bahwa mereka adalah warga sekitar yang sedang menghabiskan waktu dengan bercengkrama di depan rumah mereka (di pinggir sepanjang jalan tadi terdapat rumah - rumah warga). Namun ternyata dugaanku salah besar.

Wanita dari kecil sampai tua, dan bahkan ada yang menggendong bayinya adalah kaum peminta! bukan, bukan karena mereka kaum peminta lantas aku membenci mereka. Mereka kaum peminta yang lebih mengarah ke preman dari pada meminta dengan baik. Tiap ada pengunjung yang akan menuju makam, mereka akan memulai aksi mereka dengan memaksa pengunjung untuk memberikan sedekah. Mulai dengan cara meminta yang cenderung memaksa, mengikuti dan bahkan memegangi.

Ibu ku dan teman nya lolos dengan berjanji akan memberi ketika kami pulang. Aku yang berjalan menghindar, berkesempatan untuk memperhaatikan kaum peminta - minta ini. Mereka membuatku menggelengkan kepala dalam ketidakpercayaan dengan apa yang aku lihat. Untuk seorang kaum peminta, beberapa dari mereka menggunakan perhiasaan yang terbuat dari emas. Untuk seseorang yang meminta sedekah dan belas kasihan dari orang lain, mereka terlihat sejahtera dari badan dan pakaian yang mereka gunakan.It's just unbelieveable .

Kami memasuki kawasan makam. Sungguh, ini makam paling bagus dan terawat karena mostly kawasan makam ini tidak banyak mengalami perubahan. Hanya di tata dan jalanannya di perbaiki. Namun ini juga adalah makam yang paling sepi yang pernah aku kunjungi.Mungkin karena sepi, maka disediakan beberapa petugas untuk meminta amal jariyah dari para pelayat. Biasanya uang ini yang digunakan untuk biaya perawatan makam.

Ketika pulang, para kaum peminta tadi sudah berjajar untuk meminta jatah bak preman. Aku ngeri. Aku bahkan tidak berani mengeluarkan kamera maupun Handphone untuk memotret di daaerah sini. Sangat berbeda dengan ketika aku berkunjung ke makam yang lainnya. Ketika ibu mengeluarkan uang untuk memberi satu peminta, peminta yang lainnya segera menyerbu dan meminta untuk diberi pula. bahkan ketika ibuku sudah menggelengkan kepala, mereka tak peduli dan terus mengejar ibuku.

Dari pinggir aku melihat seorang peminta yang memberi aba - aba pada peminta yang lainnya, menunjuk pada orang yang 'bisa mengeluarkan uang'. Aku segera memberi tahu ibuku agar berharti - hati. Dan bukan hanya ibuku saja yang menjadi korban dari para peminta beringas ini, melainkan teman seperjalan juga. Bahkan ada yang dompetnya sempat direbut para peminta dan hanya ada uang lima puluh ribu yang tersisa.

Aku speechless dengan kelakuan para peminta tersebut yang tak ada bedanya dengan hewan. Dan aku jadi tahu, mengapa tempat ini begitu sepi. LOL


nb: no photo added cause I'm too scared to take a pict

Comments

Popular Posts