Memburu Air Terjun di Kota Apel: Coban Pelangi
Do you remember my friend, Laily?
Hope you still remember her. This time, I would like to spill my last trip to Malang with Laily. This is our third or forth time having trip together. And that's an awesome experience to be honest.
Lemme start the story:
Tanggal 16 Mei 2015, pukul 04.35
Aku tiba di stasiun Gubeng untuk naik kereta api penataran yang akan mengantarku ke stasiun kota Malang. Di jadwal yang tertulis di tiket, jadwal keberangkatan kereta pukul 04.45 pagi dini hari. Waktu yang ada di ponselku menunjukkan waktu 04.38 AM. Namun jam digital yang menempel di stasiun Gubeng sudah menunjukkan angka 05.05 I think maybe the train hasn't arrive yet. Jadi aku mendekat ke salah satu pegawai yang ada disana, dan bertanya tentang keberadaan kereta yang seharusnya aku naiki.
Dan bagaikan disambar petir disiang bolong tatkala petugas tersebut mengatakan bahwa kereta yang aku sebutkan sudah berangkat sesuai jadwal. What a nonsense!! Aku tidak kehilangan akal sehatku, instead aku segera antri untuk membeli tiket kereta yang jadwal keberangkatannya pukul tujuh pagi. Setelah menunggu giliran cukup lama, akhirnya aku berada tepat di depan petugas loket. Aku menyatakan maksudku untuk membeli tiket dengan tujuan Malang. Dan dengan enteng petugas tiket tersebut mengatakan bahwa tiket yang tersedia adalah tiket dengan jadwal keberangkatan pukul 12.
Another nonsense here!! Aku segera mundur dari hadapan petugas loket dan menghubungi Laily untuk memberitahu keadaan dan situasi yang aku hadapi sekarang ini. Laily menyarankan aku agar segera ke terminal bus Bungurasih dan menggunakan bus menuju Malang. Aku setuju dengan ide tersebut dan segera menghubungi adikku untuk menjemputku di stasiun Gubeng dan mengantarkan ku ke terminal bus Bungurasih.
I just can't forget how my brother react to my request. hahahah. But fortunately he is agree to do so. I arrive at terminal bus Bungurasih hampir pukul enam pagi. Sampai di terminal aku segera mencari bus dengan tujuan Malang. Setelah berfikir sejenak, aku putuskan untuk menggunakan bus patas jurusan Malang. Hal ini agar aku tidak terlalu banyak membuang waktu ku di jalan. Jadi aku harus mengeluarkan uang kembali sebanyak 25 ribu untuk ongkos bus. Memang belum rejeki naik kereta kayaknya.
Laily menjemputku dengan motornya. Kami lalu menuju sebuah SPBU untuk bertemu dengan satu orang teman laily yang juga ikut di trip bromo kemarin, Rafdi. Kami kemudian bergerak ke daerah kos Laily untuk sarapan terlebih dahulu. Kami makan dengan masakan ala rumah dan juga ramah di lidah dan kantong. Sebelum berangkat ke tempat tujuan wisata, aku meminta Laily agar kami bisa mampir ke kos nya karena aku ingin mengurangi beban bawaan di backpackku. Dan tentu saja Laily menyetujuinya, karena aku sudah menyatakan niatku ini sebelumnya.
Aku membongkar backpack ku dan hanya membawa barang - barang yang sekiranya akan aku butuhkan selama perjalanan. Pukul sembilan kurang, kami bergerak menuju tumpang untuk tujuan wisata yang pertama. Ini adalah kunjungan kami yang pertama menuju air terjun Coban Pelangi, jadi tidak ada satupun yang tahu secara pasti jalan menuju kesana. Fortunately, Laily sudah melakukan proper searching. Jadi dengan sedikit bantuan dari Google maps kami tiba di tujuan dalam waktu satu jam. Untungnya jarak kos Laily dengan tujuan kami tidak terlalu jauh, jadi kami tidak harus menderita dan kelelahan selama di perjalanan.
Selama di perjalanan, kami di suguhi dengan pemandangan yang luar biasa. Mulai dari perkebunan apel, jeruk , dan belimbing sampai ke sayur mayur, tomat dan cabe keriting. Bahkan aku sempat melihat petani yang telah selesai memanen cabe keriting. Tidak hanya itu, kami juga disuguhi pemandangan jurang di kanan kiri. Btw, karena ini adalah salah satu jalur pendakian untuk hiking gunung Semeru, jadi jangan kaget dengan keberadaan mobil hard-top yang lalu lalang mengangkut para pecinta gunung.
Kami tiba di pintu masuk dari air terjun Coban Pelangi. Pintu nya tidak terlalu besar, berisi loket retribusi dan space yang dapat memuat dua motor. Untuk parkir disini ada dua area, parkir mobil berada di luar pintu masuk sedangkan untuk motor berada tepat setelah pintu masuk. Untuk retribusi tiket masuk air terjun Coban Pelangi sebesar Rp 8.000,- dan untuk parkir sepeda motor Rp 4.000,- juga disini helm harus dititipkan Rp 1.000,- per helm nya. Aneh ya? Tapi ini kenyataan loh, helm wajib hukumnya untuk dititipkan.
Dari parkiran motor menuju lokasi air terjun Coban Pelangi kita menyusuri jalan turunan sepanjang hampir satu kilometer jauhnya. Setelah melewati jembatan bambu yang cantik, jalan akan sedikit menanjak. Tidak lama, maka akan sampai di Air terjun Coban Pelangi. Air terjun Coban Pelangi ini memiliki ciri khas yang telah di wakili oleh namanya, Coban Pelangi. Yup! Pelangi adalah hal yang bisa anda dapatkan ketika mengunjungi air terjun Coban Pelangi ini.
Kami sampai di air terjun ini pada pukul sepuluh kurang, yang artinya sinar matahari masih berada di belakang air terjun. Keberadaan matahari yang masih agak bersembunyi ini rupanya mempengaruhi keberadaan dan bentuk dari pelangi yang bisa anda saksikan disini. Sayangnya karena kami datang terlalu pagi sehingga posisi matahari belum terlalu tinggi, kami tidak dapat menikmati pelangi dengan jelas. Sinar matahari belum sepenuhnya jatuh menyinari hempasan air terjun yang menyebabkan belum munculnya pelangi besar dan terang yang biasa diposting traveler di akun instagram. Yup. Kami kurang beruntung.
Tapi kami tetap menikmati hempasan air yang menyebar dan membuat kami basah kuyup. Aku segera melindaungi backpackku dengan cover. But it didn't works properly, isi di dalam tas ku hampir basah semua. Bahkan karena tidak tahan dengan air dan udara dingin yang menyerang, ponsel ku melakukan tindakan auto-defense dengan kata lain mati sendiri. ku speechless dengan kondisi ponselku. jadi aku meraih powerbank dan menyalurkan daya ke ponselku.
Kami menikmati pemandangan air terjun dengan berjalan mendekat dan melihat beberapa pelangi di depan mata kami . Meskipun tidak semua orang melihat pelangi yang sama, tapi aku aku cukup terhibur dengan keunikan tempat ini. kami menghabiskan waktu dan menangkap beberapa gambar untuk kami jadikan kenangan.
Lalu kami memutuskan untuk balik. Jalanan yang tadi menurun, sekarang menjadi jalan nanjak meskipun tidak curam. Untuk laily maupun juniornya, hal ini bukan menjadi masalah besar. Namun bagi ku ini adalah penyiksaan diri, beberapa kali aku harus berhenti untuk mengistirahatkan kaki dan mengatur nafas.
Btw, disepanjang jalan dari air terjun ke parkiran maupun sebaliknya kita dapat menjumpai beberapa pemuda yang berusaha mendapatkan sedikit rejeki dengan mengamen disini. Jadi kalau memang ingin memberi, siapkan uang kecil di saku ya.
Aku dan laily segera menggunakan cream sunblock karena matahari sudah cukup tinggi sekarang. By the way, ada yang tahu spot air terjun yang jalanan dan trekking nya sudah bagus dan masih terjaga kondisinya? share disini ya ...
Aku membongkar backpack ku dan hanya membawa barang - barang yang sekiranya akan aku butuhkan selama perjalanan. Pukul sembilan kurang, kami bergerak menuju tumpang untuk tujuan wisata yang pertama. Ini adalah kunjungan kami yang pertama menuju air terjun Coban Pelangi, jadi tidak ada satupun yang tahu secara pasti jalan menuju kesana. Fortunately, Laily sudah melakukan proper searching. Jadi dengan sedikit bantuan dari Google maps kami tiba di tujuan dalam waktu satu jam. Untungnya jarak kos Laily dengan tujuan kami tidak terlalu jauh, jadi kami tidak harus menderita dan kelelahan selama di perjalanan.
Selama di perjalanan, kami di suguhi dengan pemandangan yang luar biasa. Mulai dari perkebunan apel, jeruk , dan belimbing sampai ke sayur mayur, tomat dan cabe keriting. Bahkan aku sempat melihat petani yang telah selesai memanen cabe keriting. Tidak hanya itu, kami juga disuguhi pemandangan jurang di kanan kiri. Btw, karena ini adalah salah satu jalur pendakian untuk hiking gunung Semeru, jadi jangan kaget dengan keberadaan mobil hard-top yang lalu lalang mengangkut para pecinta gunung.
Kami tiba di pintu masuk dari air terjun Coban Pelangi. Pintu nya tidak terlalu besar, berisi loket retribusi dan space yang dapat memuat dua motor. Untuk parkir disini ada dua area, parkir mobil berada di luar pintu masuk sedangkan untuk motor berada tepat setelah pintu masuk. Untuk retribusi tiket masuk air terjun Coban Pelangi sebesar Rp 8.000,- dan untuk parkir sepeda motor Rp 4.000,- juga disini helm harus dititipkan Rp 1.000,- per helm nya. Aneh ya? Tapi ini kenyataan loh, helm wajib hukumnya untuk dititipkan.
Dari parkiran motor menuju lokasi air terjun Coban Pelangi kita menyusuri jalan turunan sepanjang hampir satu kilometer jauhnya. Setelah melewati jembatan bambu yang cantik, jalan akan sedikit menanjak. Tidak lama, maka akan sampai di Air terjun Coban Pelangi. Air terjun Coban Pelangi ini memiliki ciri khas yang telah di wakili oleh namanya, Coban Pelangi. Yup! Pelangi adalah hal yang bisa anda dapatkan ketika mengunjungi air terjun Coban Pelangi ini.
![]() |
| Jembatan Bambu |
![]() |
| Kondisi jalan saat akan pulang |
Kami sampai di air terjun ini pada pukul sepuluh kurang, yang artinya sinar matahari masih berada di belakang air terjun. Keberadaan matahari yang masih agak bersembunyi ini rupanya mempengaruhi keberadaan dan bentuk dari pelangi yang bisa anda saksikan disini. Sayangnya karena kami datang terlalu pagi sehingga posisi matahari belum terlalu tinggi, kami tidak dapat menikmati pelangi dengan jelas. Sinar matahari belum sepenuhnya jatuh menyinari hempasan air terjun yang menyebabkan belum munculnya pelangi besar dan terang yang biasa diposting traveler di akun instagram. Yup. Kami kurang beruntung.
Tapi kami tetap menikmati hempasan air yang menyebar dan membuat kami basah kuyup. Aku segera melindaungi backpackku dengan cover. But it didn't works properly, isi di dalam tas ku hampir basah semua. Bahkan karena tidak tahan dengan air dan udara dingin yang menyerang, ponsel ku melakukan tindakan auto-defense dengan kata lain mati sendiri. ku speechless dengan kondisi ponselku. jadi aku meraih powerbank dan menyalurkan daya ke ponselku.
Kami menikmati pemandangan air terjun dengan berjalan mendekat dan melihat beberapa pelangi di depan mata kami . Meskipun tidak semua orang melihat pelangi yang sama, tapi aku aku cukup terhibur dengan keunikan tempat ini. kami menghabiskan waktu dan menangkap beberapa gambar untuk kami jadikan kenangan.
![]() |
| Pengunjung dan Air terjun |
![]() |
| Full Team |
Lalu kami memutuskan untuk balik. Jalanan yang tadi menurun, sekarang menjadi jalan nanjak meskipun tidak curam. Untuk laily maupun juniornya, hal ini bukan menjadi masalah besar. Namun bagi ku ini adalah penyiksaan diri, beberapa kali aku harus berhenti untuk mengistirahatkan kaki dan mengatur nafas.
Btw, disepanjang jalan dari air terjun ke parkiran maupun sebaliknya kita dapat menjumpai beberapa pemuda yang berusaha mendapatkan sedikit rejeki dengan mengamen disini. Jadi kalau memang ingin memberi, siapkan uang kecil di saku ya.
Aku dan laily segera menggunakan cream sunblock karena matahari sudah cukup tinggi sekarang. By the way, ada yang tahu spot air terjun yang jalanan dan trekking nya sudah bagus dan masih terjaga kondisinya? share disini ya ...





Comments
Post a Comment