Lost in Bali and Lombok for a Week - Last Part


Kami sampai di Denpasar saat jarum pendek jam hampir menyentuh angka sembilan, malam hari. Dengan bantuan sepasang suami istri yang merupakan sanak saudara Lukman, kami tidak hanya mendapat penginapan gratis selama kami berada di Bali tapi juga makan pagi dan malam. Sebagai tamu, meskipun mereka bukan keluarga yang berlebih, tapi mereka memperlakukan kami dengan sangat baik. Aku merasa beruntung dan berhutang budi pada that couple.

Keesokan harinya kami menjelah wilayah Kuta. Bermain di pantai Kuta dan berbelanja di pusat oleh - oleh khas Bali, JOGER. Sekalian membelikan barang titipan dari Nidya, aku hanyut dalam menjelajahi toko yang besar ini. Mereka menyediakan souvenir sampai tas dan baju. Tidak heran merk ini menjadi ikon cinderamata Bali.






Selama di pulau dewata, kami juga tak bisa lepas dari cuaca buruk Yup, hujan turun tiap hari. Hari kedua, kami mengunjungi kenalan ibuku yang berada di Singaraja. Meskipun kami tidak tahu jalannya, tapi kami tetap melakukan perjalanan tersebut. Kami mengandalkan penunjuk jalan dan kebaikan warga lokal yang bersedia menunjukkan arah yang benar kepada kami.

Di tengah jalan, kami melihat dari kejauhan ada seekor ular yang sedang mencoba menyebrang jalan. Kejadian ini membuat truk yang berada di depan kami berhenti mendadak, which is makes me startled. Untungnya aku dapat mengendalikan laju kendaraan ku, Subhanallah. Ternyata, untuk mencapai Singaraja, kami harus melewati dataran tinggi dengan jalanan berkelok dan menanjak.

Dengan kendaraan milik orang lain ditangan, jalanan disini benar - benar membuat ku nervous. Kami melewati daerah bedugul, disuguhi pemandangan beberapa danau dan pura cantik yang berada di pinggir danau. Hmmm, tak bisa dijelaskan dengan kata - kata kepuasan dan rasa takjub yang menyelinap. Belum lagi ada kawanan monyet ekor panjang liar yang berjemur di trotoar jalan. Dan pada ketinggian tertentu, kabut turun dengan intensnya. Ini kali pertama bagi ku melihat kabut setebal ini.

Setelah itu kami melewati jalanan berkelok yang menurun, disini langit mulai terlihat lebih gelap. Dan jatuhlah butiran air hujan. Hujan ini terus berlanjut sampai kami hampir tiba di kota Singaraja. Dengan badan menggigil, kami bersyukur berjumpa dengan cuaca cerah. Dengan sedikit bantuan, kami dengan mudah menemukan rumah yang kami cari.

Sayangnya, cuaca cerah di Singaraja tidak bertahan lama, kami memutuskan untuk langsung kembali ke Denpasar. Kami tidak ingin kemalaman di jalan, dengan kondisi jalanan seperti tadi maka sangat berbahaya tentunya. Apalagi di sepanjang perbukitan kami jarang menjumpai lampu jalan. 

Hari terakhir kami habiskan dengan berburu oleh - oleh lagi. This trip is really amazing.


Comments

Popular Posts