EXPLORING BANYUWANGI 4

DAY 2 - MERUBETIRI NATIONAL PARK (THE HEAVEN AFTER HELL)


Its not that this place is worst or dirty, just because I hardly hiked to get there, the heaven.


I've remember what my mom said,'untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, kamu harus melalui penderitaan terlebih dahulu'. Its like, if you want money you have to work. 

I hardly believe that. hardly. :/

Kami tergoda untuk membeli ikan dari nelayan yang baru saja pulang dari melaut. Tentunya, ikan masih sangat segar jaminan 100%. Nah, si Candra tanya nih, adanya cuma ikan cakalang segar. Dan mereka mematok harga Rp 10.000,-/kg.Kata ibuku sih, harga segitu sudah muraaaaah, mengingat kondisi ikan masih bagus dan segar dibandingkan dengan harga ikan dipasar yang pasti jauh lebih tinggi. Sayang nya kami kurang berminat dengan jenis ikan ini, jadilah kami batal membeli ikan (keputusan bodoh yang segera akan kami sesali. Menyesal). Oh iya, ukuran ikan cakalang hasil tangkapan nelayan ini cukup besar, beratnya paling sedikit dua kilogram. Gede kan?!

Setelah itu, kami keluar dari kawasan pantai Rajegwesi. Melanjutkan perjalanan ke Green Bay. Nah, spot ini sebenernya request khusus dari Candra. Karena Candra yang paling tahu spot bagus disini, jadi kebanyakan dari kami cuma follower setia Candra, haha. 

Jalan menuju Teluk Hijau ini, luar biasa jelek. Sepertinya, memang tidak pernah di pasang aspal sepanjang jalan ini. Tracknya cuma seperti lahan yang dibuka untuk jalan, nah jalan ini tidak rata dan berbatu, sempit dan cukup ekstrem. Kali ini kami semua berjibaku lebih keras dibandingkan sebelumnya agar badan tidak menghantam benda keras di sekeliling kami.







Jujur saja, aku pribadi ketakutan dengan alasan tertentu. Dengan duduk di kursi sebelah kemudi, aku bisa dengan jelas melihat kondisi jalanan yang buruk. Ngeri. Badan berasa bergoyang dangdut diluar kemauan dari pemilik tubuh. Saking jeleknya jalan tuh.

We are exciting yet feels anxious. xD

Singkat kata, mobil berhenti di dekat sebuah plakat yang menunjukkan arah ke Green Bay atau Teluk Hijau. Tapiiii, yang bikin aku terperangah adalah arah plakat ini menunjuk ke sebuah jalan setapak yang menanjak. I'm totally taken aback. My mental is schock for sure, but my adrenalin keep on pushing me.

Mungkin saat itu, wajah sudah pucat duluan. Akhirnya I put my courage and take my first step. yeah, its seem like I'm a coward, but not really.

damn,its really a long path. Sebelum ke green bay, kita pasti akan melewati stone shore a.k.a pantai batu. Kenapa disebut pantai batu? Di pantai ini susah sekali melihat pasir lembut. Sebagai gantinya, banyak batu tersebar merata dari yang ukurannya gede sampai dengan kecil.

Dari stone shore ini, hanya butuh waktu sekitar lima menit, menempuh jalan setapak untuk mencapai green bay.

"eh, sumpah. pantainya bagus banget. pantai ini paling bagus selama aku pernah liat pantai" ipud said. and it so damn true.

Pasirnya lembut banget. Jelas sudah alasan kenapa Candra ngotot ngajakin kita ke pantai ini. Jalan kaki 20an menit dengan menanjakpun seakan tak ada artinya lagi.

Kebetulan, ada satu kelompok lagi yang sedang mengunjungi teluk ini. Dilihat dari apa yang mereka lakukan disini, kami berasumsi bahwa rombongan ini adalah rombongan jurnalis. Woh, baru kali ini tahu langsung jurnalis sedang mengumpulkan bahan tulisannya. Rombongan ini sempat membeli ikan di pantai Rajegwesi sebelumnya. Makanya, sesampainya di teluk, mereka segera pesta kecil - kecil dengan membakar ikan. Sayangnya, mereka tidak menampakkan itikad untuk berbagi.

yeah well, salah kita juga sih, dan kami kelaparan karena belum lunch sedangkan matahari sudah condong ke arah lain. Dengan menahan kelaparan, kami kembali ke titik point mobil. Dan aku kehabisan napas, ga lupa juga mandi keringat karena jalan menanjak yang cukup jauh. Ya Tuhan. Ini mungkin yang disebut pengalaman sekali seumur hidup. (*if you know what I mean)

We already discovered the new beauty of Indonesia. But still, we're amazed.

stone shore



Comments

Popular Posts